oleh: Asrarulhaq Dt. Kari
Teras, Sumpah (qasam) jama’ dari fi’il aqsama dita’addikan dengan ba kepada muqsim yaitu sesuatu didatangkan untuk bersumpah lalu di datangkan kepada almuqsim ‘alaih yaitu sesuatu yang karena sumpah diucapkan. Ini dinamakan jawab qasam (Manna’ Khalil al-Qaththan:1993:290)
“dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh,”…..QS.
Berbagai macam sumpah :
Sumpah Allah : Allah bersumpah merupakan makna-makna bagi manusia, alam bisa tunduk kepada Allah kenapa manusia yang sudah dikaruniai akal fikiran masih belum mau untuk tunduk dan patuh pada Allah. Ketika Allah bersumpah dengan diri-Nya maka sumpah ini juga untuk manusia. Muqsambih: sandaran sumpah(objek sumpah) maka yang bersumpah itu manusia maka sandarannya itu adalah Allah. Boleh dengan menggunakan salah satu dari al asma ul-husna. Karena muqsambih itu sesuatu yang agung. Dalam Islam tidak ada yang agung kecuali Allah.
Ultimatum Nabi : ”Siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka ia musyrik“
Karenanya seseorang bersumpah. Allah bersumpah: demi masa maka (muqsam ’alaihnya) adalah sesungguhnya manusia dalam merugi
Sumpah orang tua terhadap anak (lebih tepat disebut dengan kutukan), dalam sebuah legenda di Sumatera Barat sebut saja Malin Kundang anak durhaka, yang dikutuk oleh orang tuanya hingga menjadi batu. Cerita ini hanya viktif belaka, namun kita dapat mengambil hikmahnya tapi jangan diyakini karena akan menjatuhkan seseorang kelembah kemusyrikan.
Sumpah palsu: Efek sumpah secara psikologis, Ketika sesorang yang berbohong akan memberi dampak psikologis bagi sipembohong itu sendiri, dan Allah akan mencap seorang pembohong sebagai seorang yang tidak jujur di hadapan Allah. Sumpah tidak dengan hati, manusia tidak terlepas dengan godaan-godaan sejauhmana manusia taat kepada sumpah yang dijalani.
Sumpah serapah: petualangan seorang pendekar dalam cerita-cerita komik, disaat banyak berhadapan dengan moesuh-moesuh, selalu diucapkan sumpah-sumpah serapah demi mempertahankan harga diri sebagai seorang pendekar persilatan yang memiliki sebuah perguruan. Walaupun pada akhirnya mengalami kematian (ujuang cerita). Sebagai lakon (pendekar-red) pembela kebenaran dalam episode-keepisode tidak pernah takut dengan sumpah serapah, dia selalu menang dan selalu menaklukkan lawan-lawannya.
Sumpah jabatan: Setiap menobatkan secara resmi seseorang untuk memangku suatu jabatan (Amanah) secara hukum harus diambil sumpah jabatan agar dapat menjalankan tugas-tugas yang diembann sesuai menurut koridor hukum yang berlaku, kelengkapan administrasi sampai penanda-tanganan naskah / keptusan serta pernyataan kesediaan secara tertulis dan lisan, maka dilangsungkan pengambilan sumpah oleh pejabat yang berwenang. Tidak sedikit pejabat yang diambil sumpahnya di dunia tanpa dosa, tapi yakinlah bahwa dibalik sumpah yang dilakukan tidak luput dari penglihatan dan pendengaran Allah SWT sebagai tempat mempertanggungjawabkan segala apa yang telah dilakukan.
Sumpah pocong : Tidak ada dalam Islam, sumpah pocong pernah dipercayai didaerah Jawa,…
Sumpah Pemuda : gelombang perjuangan generasi muda di tanah air ini, telah memberikan kontribusi besar dalam merebut kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kemerdekaan yang diperoleh dengan berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa sebagaimana tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. dalam rentetan sejarah kaum muda pada awalnya diuji untuk mampu sebagai perekat persatuan dan kesatuan antar susku-suku bangsa di Nusantara. Walaupun menemui proses panjang yang penuh perdebatan dikalangan anak muda yang tergabung dalam organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) serperti, Perhimpunan pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java (JJ), Pemuda Sumatera (JSB), Pemuda Indonesia, Jong Batak, Sekar Roekoen, dan Pemuda Betawi. Keberadaan organisasi kepemudaan di Tanah Air telah memberikan pendidikan terhadap anak-anak bangsa sebagai wujud pemuda pengabdian kepada bangsa , satu nusa dan satu bahasa. Akhirnya sumpah pemuda tersebut dirumuskan sebagai berikut dalam kongres kedua secara aklamasi:
Kami poetra dan poetry Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia
kami poetra dan poetri Indonesia mendjoen-djoeng bahasa persatoen, bahasa Indonesia.
SUMPAH NABI MUSA DENGAN UMATNYA MENJADI KERA (KUTUKAN) DOA NABI MUSA
Apakah Allah perlu bersumpah? Pertanyaan seorang mahasiswa pascasarjana dalam diskusi mata kuliah Ulumul Qur’an
Bersumpah dengan perkataan dan hati
Bersumpah dengan bibir tapi tidak diiringi dengan hati
ALLAH BERSUMPAH DENGAN DIRINYA, MANUSIA BERSUMPAH DENGAN ALLAH. ALLAH BERSUMPAH DENGAN MAKLUKNYA ADALAH MEMBERIKAN PELAJARAN KEPADA MANUSIA.BAHWA PADA DASARNYA ALLAH BERSUMPAH DENGAN MAKHLUKNYA SECARA LAHIR TAPI PADA HAKIKATNYA ADALAH BERSUMPAH DENGAN DIRINYA. WALLAILI (WARABBILLAILI) DAN LAIN-LAIN.
KALAMU IFTIDAK : TIDAK DITAKKID. KALAU DIBERI TAKKID TIDAK ADA GUNANYA
LIL MUTARAKKIDUN: PENDENGARNYA TERSEBUT RAGU-RAGU. APA YANG DISAMPAIKAN TERSEBUT KEMUDIAN DIANALISIS SEHINGGA MENIMBULKAN KERAGU-RAGUAN KARENA TIDAK SESUAI DENGAN POLA PIKIRNYA.BERMAIN-MAIN DENGAN SUMPAH AKAN MENIMBULKAN KONSEKWENSINYA (BILAIMAN).
Senin, 26 Mei 2008
Islam Di Spayol:
Teras, Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (105-715 M), Spanyol di masa Umayyah I berpusat di Damaskus. Masuknya Islam ke Spanyol pada saat masyarakatnya mengalami perpecahan dibidang politik, mundur dibidang ekonomi dan kepercayaan.
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam paling berjasa yaitu : Tharif Ibn Malik, Thariq Ibn Ziyad, dan Musa Ibn Nushair. Tharif dikenal sebagai perintis dan penyelidik. Di Selat Maroko,dan benua Eropa dengan tentara berkuda, empat buah kapal (Julian).
Raja-Raja yang ditundukkan :
1. Kerajaan Visigothic di Spanyol
2. Raja Roderic, disamping kota-kota seperti: Cordova, Granada, dan Toledo (Ibu Kota Kerajaan Goth). Secara beruntun kota-kota yang dilewati ditundukkan. (Sidonia, Karmona, Seville dan Merida.
3. Kerajaan Ghotic
4. Theodomir di Orihuela. Saragosa sampai Navare.
Setelah Spanyol dikuasai dijadikan propinsi Dinasti Bani Umayyah dengan Gubernur pertamanya adalah Abdul Aziz putra Musa Ibn Nushair pada tahun 716 M.
Penyebab kekalahan Spanyol :
Rakyat Spanyol dibawah tekanan kekejaman penguasa.
Kesulitan Ekonomi.
Tidak adanya Ideologi pemersatu
Perebutan Kekuasaan dikalangan raja-raja kecil
Semangat Jihad Umat Islam yang kuat.
Islam dengan konsep persaudaraan, perdamaian, menolong masyarakat lemah dan tertindas.
Perkembangan Islam
Periode Pertama (711-755 M)
Periode Kedua (755-912)
Periode Ketiga (912-1013) pada masa kekhalifahan ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, dapat menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di bagdad.
Periode Keempat (1013-1086) spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif yang berpusat di kota seperti, Seville, Cordova, Toledo dsb. Masa ini umat Islam Spanyol memasuki masa pertikaian internal. Perang saudara hingga minta bantuan ke raja-raja Kristen.
Periode kelima (1086-1248) Dinasti Murabithun (1086-1143) gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf Ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Sebagai undangan penguasa-penguasa Islam karena tengah mempertahankan negerinya dari serangan Kristen. dan Dinasti Muwahiddun (1146-1235) berpusat di afrika Utara didirikan oleh Muhammad Ibn Thumart (W. 1128 M).
Periode Keenam (1248-1492 M) Islam berkuasa di Granada, di bawah Dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nasir. Namun secara politik dinasti ini hanya berkuasa diwilayah yang kecil. (masa perebutan kekuasaan di Istana)
Kemajuan yang dibangun
Ilmu Pengetahuan dan Peradaban
Kemajuan di bidang intelektual
a. Fiqh
b. Bahasa dan sastra
c. Musik dan Seni
d. Perguruan Tinggi (Universitas Cordova) kosentrasi ilmu
pengetahuan terdiri dari :
· Filsafat
· SainSejarah dan Geografi
Kemajuan Peradaban (Arsitektur ke-Khalifahan yang meliputi Arsitektur Masjid, Istana, Tempat Pemandian)
Faktor Pendukung Kemajuan Peradaban Islam di Spanyol
Pilar : ”Kemajuan Pendidikan“
Program-program pemerintah
Menghargai karya-karya ilmu
Toleransi Kehidupan beragama
Kekuasaan Islam di spanyol telah membawa perubahan yang sangat signifikan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakatnya terutama kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang melahirkan berbagai peradaban.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh pemerintahan Islam pada daerah tersebut, telah menjadi inspirasi bagi bangsa Eropa dan sadar akan ketertinggalannya, sehingga bangsa eropa berlomba-lomba mencari ilmu dan Karya-karya ilmuan Islam yang akhirnya membawa Bangsa Eropa berbalik menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sampai sekarang ini.
Kemajuan ilmu pengetahuan di Spanyol sangat ditentukan oleh perhatian pemerintah dan masyarakatnya yang menempatkan para pendidik pada tempat yang terhormat dan menghargai karya-karya mereka pada tempat yang tinggi.
Fanatik keagamaan telah merusak tatanan kehidupan dan peradaban Islam pada daerah tersebut, ditambah ambisi raja Ferdinan dan ratu Isabella mengalahkan kekuasaan Islam, mengakibatkan hancurnya kebudayaan yang telah dibangun berabad-abad lamanya.
Penyebab Abbasiyah tidak pernah memerangi Spanyol karena daerah yang sangat jauh antara Bagdad dengan Spanyol.Dalam sejarah kedatangan Islam ke Spanyol tidak pernah terdengar pembantaian terhadap orang-orang Spanyol. Kedatangan Islam penuh dengan rahmah, toleran dan perdamaian.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hafifi, Abdul Hakim, 1000 Peristiwa Dalam Islam, Terj. Irwan Kurniawan, Bandung: Pustaka Hidayah, 2002
Fahmi, Hasan, Asma, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam (Mabadi al-Tarbiyah al-Islamiyah) Terj. Ibrahim Hasan, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
Yatim. Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Harun, Maidir dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, Padang: IAIN Press,2001
Tohir, Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
Lapidus, Ira,M. Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Hidakarya Agung, 1981
Nizar, Syamsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2007
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam paling berjasa yaitu : Tharif Ibn Malik, Thariq Ibn Ziyad, dan Musa Ibn Nushair. Tharif dikenal sebagai perintis dan penyelidik. Di Selat Maroko,dan benua Eropa dengan tentara berkuda, empat buah kapal (Julian).
Raja-Raja yang ditundukkan :
1. Kerajaan Visigothic di Spanyol
2. Raja Roderic, disamping kota-kota seperti: Cordova, Granada, dan Toledo (Ibu Kota Kerajaan Goth). Secara beruntun kota-kota yang dilewati ditundukkan. (Sidonia, Karmona, Seville dan Merida.
3. Kerajaan Ghotic
4. Theodomir di Orihuela. Saragosa sampai Navare.
Setelah Spanyol dikuasai dijadikan propinsi Dinasti Bani Umayyah dengan Gubernur pertamanya adalah Abdul Aziz putra Musa Ibn Nushair pada tahun 716 M.
Penyebab kekalahan Spanyol :
Rakyat Spanyol dibawah tekanan kekejaman penguasa.
Kesulitan Ekonomi.
Tidak adanya Ideologi pemersatu
Perebutan Kekuasaan dikalangan raja-raja kecil
Semangat Jihad Umat Islam yang kuat.
Islam dengan konsep persaudaraan, perdamaian, menolong masyarakat lemah dan tertindas.
Perkembangan Islam
Periode Pertama (711-755 M)
Periode Kedua (755-912)
Periode Ketiga (912-1013) pada masa kekhalifahan ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, dapat menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di bagdad.
Periode Keempat (1013-1086) spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif yang berpusat di kota seperti, Seville, Cordova, Toledo dsb. Masa ini umat Islam Spanyol memasuki masa pertikaian internal. Perang saudara hingga minta bantuan ke raja-raja Kristen.
Periode kelima (1086-1248) Dinasti Murabithun (1086-1143) gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf Ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Sebagai undangan penguasa-penguasa Islam karena tengah mempertahankan negerinya dari serangan Kristen. dan Dinasti Muwahiddun (1146-1235) berpusat di afrika Utara didirikan oleh Muhammad Ibn Thumart (W. 1128 M).
Periode Keenam (1248-1492 M) Islam berkuasa di Granada, di bawah Dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nasir. Namun secara politik dinasti ini hanya berkuasa diwilayah yang kecil. (masa perebutan kekuasaan di Istana)
Kemajuan yang dibangun
Ilmu Pengetahuan dan Peradaban
Kemajuan di bidang intelektual
a. Fiqh
b. Bahasa dan sastra
c. Musik dan Seni
d. Perguruan Tinggi (Universitas Cordova) kosentrasi ilmu
pengetahuan terdiri dari :
· Filsafat
· SainSejarah dan Geografi
Kemajuan Peradaban (Arsitektur ke-Khalifahan yang meliputi Arsitektur Masjid, Istana, Tempat Pemandian)
Faktor Pendukung Kemajuan Peradaban Islam di Spanyol
Pilar : ”Kemajuan Pendidikan“
Program-program pemerintah
Menghargai karya-karya ilmu
Toleransi Kehidupan beragama
Kekuasaan Islam di spanyol telah membawa perubahan yang sangat signifikan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakatnya terutama kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang melahirkan berbagai peradaban.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh pemerintahan Islam pada daerah tersebut, telah menjadi inspirasi bagi bangsa Eropa dan sadar akan ketertinggalannya, sehingga bangsa eropa berlomba-lomba mencari ilmu dan Karya-karya ilmuan Islam yang akhirnya membawa Bangsa Eropa berbalik menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sampai sekarang ini.
Kemajuan ilmu pengetahuan di Spanyol sangat ditentukan oleh perhatian pemerintah dan masyarakatnya yang menempatkan para pendidik pada tempat yang terhormat dan menghargai karya-karya mereka pada tempat yang tinggi.
Fanatik keagamaan telah merusak tatanan kehidupan dan peradaban Islam pada daerah tersebut, ditambah ambisi raja Ferdinan dan ratu Isabella mengalahkan kekuasaan Islam, mengakibatkan hancurnya kebudayaan yang telah dibangun berabad-abad lamanya.
Penyebab Abbasiyah tidak pernah memerangi Spanyol karena daerah yang sangat jauh antara Bagdad dengan Spanyol.Dalam sejarah kedatangan Islam ke Spanyol tidak pernah terdengar pembantaian terhadap orang-orang Spanyol. Kedatangan Islam penuh dengan rahmah, toleran dan perdamaian.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hafifi, Abdul Hakim, 1000 Peristiwa Dalam Islam, Terj. Irwan Kurniawan, Bandung: Pustaka Hidayah, 2002
Fahmi, Hasan, Asma, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam (Mabadi al-Tarbiyah al-Islamiyah) Terj. Ibrahim Hasan, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
Yatim. Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Harun, Maidir dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, Padang: IAIN Press,2001
Tohir, Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
Lapidus, Ira,M. Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Hidakarya Agung, 1981
Nizar, Syamsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2007
Jumat, 09 Mei 2008
DERITA PETANI DAN KORUPSI DI LUMBUNG BERAS
WACANA : KEMBALI KE KOMPETENSI!
Fakta, Wacana menghilangkan propinsi adalah diskusi populer yang belakangan ini muncul di Sumatera Barat. Barang kali karena wacana ini ditelorkan oleh Gamawan Fauzi yang nota bene adalah Gubernur Propinsi Sumatera Barat.
Di negeri ini sebenarnya tidak ada larangan bagi setiap warganya untuk mengemukakan ide, pikiran dan pendapat. Konstitusi dan undang-undang menjamin semua itu. Bahkan berwacana, bermimpi, berkhayal dan mengawang-awang sekalipun adalah hak yang bersangkutan masing-masing warga negara. Kalaupun misalnya ada yang “gila” karenanya, mungkin juga tidak jadi soal. Semua warga negara katakanlah, pejabat, parktisi, akademisi dan masyarakat badarai boleh-boleh saja untuk mengeluarkan ide, pikiran dan pendapat.
Namun bisa saja wacana menjadi persoalan atau bias, bahkan menjadi kontarproduktif dan menyimpang bila tidak disalurkan dengan tepat, sesuai dengan situasi dan kondisi, dalam istilah Minang tidak berkesesuaian dengan alur dan patut (alua jo patuik). Dalam istilah orang Maninjau sana disebut dengan istilah kompetensi. Kewenangan atau kompetensi inilah yang menarik dicermati bila dikaitkan dengan polemik atau perdebatan serius soal penghilangan eksistensi propinsi (otonom) yang terlanjur kepermukaan belakangan ini.
Sebagai ilustrasi sederhana mengambil contoh di pengadilan, maka tugas hakim yang pertama adalah memeriksa soal kompetensi gugatan atau dakwaan, apakah pengadilan berwenang atau tidak untuk mengadili sebuah perkara. Bila pengadilan berwenang, maka pemeriksaan lanjutan baru bisa dilakukan. Jadi bila mengambil pelajaran dari prosedural hukum di pengadilan, nampaknya penting bagi semua pihak agar memahami soal kompetensi ini lebih awal.
Bagi Gamawan sebagai Gubernur dan Kepala Daerah propinsi Sumatera Barat masih patutkah disaat ini, ketika rakyat sedang susah, petani dihadang impor beras, tanah ulayat yang kusut tak kunjung selesai, banyak bencana dan wabah, ekonomi morat-marit, korupsi yang meraja-lela, toh masih sempat-sempatnya berwacana? Apakah tidak terlalu naif, atau kebablasan? Sebab sungguh ironis, mengingat pekerjaan pokok di daerah belum terselesaikan dengan baik, sementara pak gubernur sibuk berwacana ria, yang sebenarnya lebih tepat dilakukan oleh seorang akademisi atau pejabat politik di Jakarta. Berbicara soal negara hari ini agaknya terlalu luas bagi seorang Gamawan, karena Gamawan belumlah teruji soal ini. Wajarlah bila Abel Tasman mempertanyakan implementasi kinerja Pak Gamawan terlebih dulu. Artinya berbuatlah terhadap daerah ini terlebih dahulu, baru berwacana menyusul kemudian bila sudah bekerja dan berprestasi.
Agaknya masyarakat masih sedang menunggu dan menguji kinerja Pak Gubernur yang relatif masih panjang . Apa lagi sampai sekarang ini masih banyak persoalan krusial di daerah yang belum terlaksana dan beberapa agenda di daerah yang terbengkalai total. Misalnya soal PP 84, pembangunan sektor riil yang awut-awutan, pembangunan fisik yang belum terkesan rafi (tambal sulam), efisiensi dan efektivitas pemerintahan ( STOK yang mubajirun), umumnya masih banyak yang belum bisa dilakukan oleh Pak Gamawan sebagai Gubernur Sumatera Barat yang dipilih secara langsung.
Mbok ya..besabarlah dulu Pak Gamawan, pemerintahan baru saja berjalan dua tahunan. Implementasi program kerja dan janji-janji terhadap rakyat ketika kampanye dulu masih jauh panggang dari api. Biarlah soal wacana yang menyangkut sistem pemerintahan dan bentuk negara ini dipikirkan oleh akademisi atau pakar yang kompeten dibidangnya atau para politisi Senayan Jakarta saja.
Yakinlah bila Pak Gamawan sedikit bersabar, dan bekerja giat untuk kebaikan rakyat, khususnya daerah Sumatera Barat ini, maka tunggulah keajaiban-keajaiban seperti sebelumnya selalu Pak Gamawan alami sendiri, begitu banyak keberuntungan dan berkah yang selalu datang dengan sendirinya, untuk itu saya termasuk yang mendo’akan selalu agar Pak Gamawan sukses dalam menjalankan aktivitas pemerintahannya sehari-hari.
Bila belajar dari kasus Gus Dur misalnya, maka pemerintahannya yang sibuk berwacana saja tidaklah laku dimata sebagian rakyat, sehingga beliau sendiri bisa lengser secepatnya ditengah jalan. Saya jadi curiga, Gus Dur ini juga salah ketika menerapkan kompetensi. Seharusnya pekerjaan presiden, gubernur, bupati/walikota (eksekutif) itu adalah menjalankan program kerja, implementasi dilapangan, sangat teknis memang, tapi bukanlah mengedepankan wacana saja, apa lagi seolah-olah wacana itu menjadi keutamaan. Padahal semuanya itu kebohongan publik semata.
Bagi Pak Gamawan mumpung masih banyak waktu, belum separah Gus Dur dan barangkali juga SBY, maka saran saya masih banyak pekerjaan yang sesegeranya harus dikerjakan, mulai sekarang ini marilah kita sedikit bicara, tapi banyak kerja (istilah Ibu Megawati rasanya masih relevan dan signifikan).
Biarlah SBY sibuk dengan pencitraannya, yang Pak Gamawan bekerja sajalah untuk daerah ini. Mudah-mudahan nanti Pak Gamawan bisa juga jadi menteri atau bahkan jadi presiden sekalian. Wait and see.. Wallahu Allam.***
Penulis adalah Advokat, Politisi PBB dan Dosen STIH Padang
DERITA PETANI DAN KORUPSI DI LUMBUNG BERAS
Fakta, Sekitar lima abad yang silam, bangsa-bangsa Asia seperti Cina, India, Persia dan Eropa sudah melakukan perdagangan dan berinteraksi langsung dengan penduduk-penduduk pribumi diseluruh pelosok nusantara, karena sedari dulu bangsa ini sudah dikenal sebagai negeri yang sangat kaya, subur dan melimpah sumber daya alam. Terutama hasil bumi maupun hasil pertaniannya, seperi kopra, cendana, gaharu, kopi dan rempah-rempahan.
Dalam cerita Jawa negeri ini dulu disebut dengan, “gemah ripah loh jenawi”. Bahkan dalam dendang anak negeri tahun 60-an disebut pula “negeri kolam susu”. Negeri yang luar biasa, bagaikan sepotong sorga yang diturunkan Tuhan dari langit.
Betapa banyak kisah dan sebutan-sebutan tentang negeri ini yang sangat indah dan elok. Namun kisah dan sebutan ini tidak selalu seindah namanya, malah justru sering kali membawa persoalan dan petaka besar bagi kehidupan rakyatnya. Hampir sepanjang masa, rakyatnya selalu hidup miskin, melarat dan menggenaskan, karena lama terjajah, baik oleh bangsa asing maupun oleh bangsa sendiri.
Apapun nama dan kisahnya, entah karena kebodohan semata, “kufur nikmat”, sungguh telah “menina-bobokkan” bangsa ini dalam waktu yang sangat lama. Bangsa ini tertidur pulas dihamparan “permadani hijau”, terhipnotis oleh “hembusan angin sepoi-sepoi basah khatulistiwa” dan terhanyut oleh “rayuan pulau kelapa”-nya.
Ironisnya semua itu hanyalah mimpi belaka, nyatanya nasib dan kehidupan para petani dinegeri ini tak seindah mimpi yang datang disetiap tidur mereka, karena realitanya, ketika mereka terbangun dan menghadapi kenyataan hidup mereka yang sebenarnya, justru kehidupan mereka sangatlah memprihatinkan dan menggenaskan.
Sungguh memuakkan, “terlahir sebagai petani di Indonesia, karena status kehidupan ini dipandang sangat rendah dan sebelah mata. Menjadi petani berarti siap untuk menderita. Bahkan dalam kondisi yang sangat tertekan sekalipun, mereka petani-petani melarat masih dihadapkan dengan harga pupuk yang terus melambung tinggi, ancaman gagal panen, karena pengaruh iklim yang tidak kompromi akibat pemanasan global, bencana alam banjir, longsor, gunung meletus dan gempa yang tiada henti, ancaman hama, ditambah segudang regulasi dan kebijakan pemerintah yang tidak pernah memihak kepada para petani.
Banyak sawah sekarang dipelosok-pelosok negeri dibiarkan terlantar oleh yang empunya, karena ongkos produksi bertani padi lebih tinggi dari hasil penjualan pasca panen. Harga beras yang murah membuat petani separo hati untuk menjadikan sawah-sawah mereka. Kalaupun sawah dikerjakan, bukan berarti mereka hendak mencari untung, tapi cuma sekedar mengisi hari-hari dan mencoba menghalau kegundahan yang menyelimuti mereka seharian, siang maupun malam.
Kebijakan negara mengimpor beras untuk menekan harga gabah petani sungguh memukul mental dan kinerja petani. Negara ini lebih suka mensubsidi negara asal pengimpor beras, ketimbang mensubsidi petani sendiri. Pada hal pembelian beras ke negara tetangga, seperti Thailand dan Vietnam dengan harga yang tinggi dilakukan dengan mekanisme impor berlabel subsidi. Ironisnya impor tersebut semuanya adalah memakai dana APBN yang nota bene adalah hasil pajak, cucuran keringat rakyat sendiri yang mana beras impor itu kemudian didistribusikan ke pasaran dalam negeri dengan harga yang murah, berdalihkan subsidi untuk rakyat, dengan program berkedok raskin, operasi pasar, beras murah dan sebagainya.
Regulasi terhadap impor-mengimpor beras dan praktek subsidi dilakukan negara dengan alasan agar harga beras murah dan terjangkau oleh rakyat. Dengan demikian, kebijakan impor beras, membuat seolah-olah negara peduli terhadap rakyat dan turut membantu rakyat miskin untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Kebohongan-kebohongan itupun terus terjadi, bahkan semakin terlegitimasi dengan alasan bahwa daya beli rakyat memang sangat rendah, maka dengan alasan tersebut pula, maka negara berkewajiban untuk memberi subsidi.
Tetapi sebenarnya dibalik semua itu, kebijakan impor berlabel subsidi tesebut menimbulkan kerugian yang sangat besar, karena parahnya telah mematikan jiwa dan semangat bertani para petani – yang menjadi penghuni secara mayoritas di negeri ini. Bahkan diluar itu sudah menjadi rahasia umum bahwa praktek impor beras sangat sarat dengan praktek korupsi. Faktanya sampai hari ini banyak kasus korupsi hebat yang terungkap di Bulog maupun diberbagai lembaga, instansi lainnya yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan pokok pangan rakyat.
Pada hal sebenarnya, bila harga beras dan produk pertanian lainnya petani tinggi, katakanlah memadai atau sesuai dengan harga standar di Asean, maka rakyat Indonesia sebenarnya bisa lebih sejahtera, karena bisa mengekspor beras dan produk pertanian lainnya itu dengan harga bersaing. Sebab dengan harga yang baik, logikanya petani akan bergairah kembali mengerjakan sawah-sawah mereka. Bahkan kalau semua pabrikan di Kerawang, Serang dan Banten kembali beralih fungsi dan peruntukannya seperti semula, maka kawasan itu bisa kembali menjadi lumbung pangan nasional dan negara ini bisa kembali swasembada pangan.
Dengan alasan demikian, perlu dipertanyakan, kok bisa dinegeri ini “petani kelaparan dilumbung padi”? Negara yang dikenal agraris, tanahnya subur, justru kerja pemerintah dan aparatusnya hanya mengimpor beras, jagung, gula, kacang tanah, kacang kedele, jeruk, durian dan lain-lain sebagainya, mana kala semuanya itu bisa ditanam di Indonesia. Bukankah seharusnya sebagai negara agraris, Indonesia cukup konsisten mengekspor produk-produk pertanian saja, karena eksistensi Indonesia dengan keunggulan alamiahnya (comparative adventage), mencakup seluruh produk-produk pertanian tropis tak pernah terbandingkan dengan bangsa-bangsa lain dibelahan dunia manapun.
Lagi pula, tugas menteri perdagangan Indonesia, sudah seharusnya memaksimalkan ekspor produk pertanian tropis, karena secara komparatif Indonesia unggul dibidang ini. Sementara ekspor barang-barang kebutuhan tertiar (lux), seperti elektronik, sepeda motor, mobil dan barang mewah lainnya yang menjadi andalan industri bangsa lain, ternyata tidak cocok diterapkan di Indonesia, karena ternyata sedikit pun tidak mampu merubah peningkatan tarap hidup buruh dan secara umum perekonomian rakyat Indonesia. Barang-barang tertier cukuplah diimpor, sebab selama inipun kehidupan industri Indonesia, hanyalah industri “tukang jahit”, atau dikenal dengan industri perakitan. Dimana oleh negara pemodal (investor), membangun pabrik di Indonesia adalah untuk tujuan effisiensi dan efektivitas produknya agar lebih menguntungkan secara ekonomis, karena upah buruh yang murah selain juga lebih mendekatkan dengan pangsa pasarnya.
Korupsi di Lumbung Pangan
Betapa malang nasip petani di negeri ini. Sudahlah petani dirugikan karena mereka mengeluarkan ongkos produksi yang mahal, mereka pun tidak bisa menjual hasil pertaniannya sedikit diatas ongkos produksi itu. Bahkan sebenarnya sangat aneh, karena subsidi yang diberikan negara ini, justru yang menikmati hasilnya adalah negara asal pengimpor yang tentu saja banyak mengambil untung. Belum lagi praktek koruptif yang dilakukan aparatus Bulog bersama rekananannya, ketika membeli beras maupun disaat mendistribusikan beras impor kepasaran dalam negeri.
Bahkan sungguh luar biasa, praktek korupsi yang terjadi disekitar impor beras cukup dihitung dengan asumsi dan logika yang sederhana. Bulog sebagai perpanjangan tangan negara bisa saja membeli beras ke negara tetangga dengan harga Rp. 5.000 perkilogram dengan memakai uang APBN, itu pun biasanya hanya tertulis dalam bentuk kuitansi, sementara bayaran yang sebenarnya diterima importir cuma Rp. 4.500 perkilogram. Korupsinya sudah bisa dibayangkan sekitar Rp. 500 perkilogram. Lalu bila beras impor tersebut sampai ditangan Bulog, kemudian beras tersebut didistribusikan ke rekanan dan distributor dengan harga yang sudah disubsidi oleh negara Rp. 1.500 perkilogram, menjadi sebesar Rp. 3000, maka disinilah sekali lagi Bulog “panen” mendapatkan komisi dari distribusi ini, karena diam-diam juga menerima komisi Rp. 200 perkilogram dari para distributor dan rekanan.
Sementara oleh distributor dan rekanan pada akhirnya harga beras impor tersebut dijual dipasaran dengan harga berpluktuasi sekitar Rp. 3.500 perkilogram. Dengan berdalih praktek stabilisasi harga ala Bulog dan pemerintah, maka berakibat harga gabah petani lokal pun anjlok. Pada hal supaya untung seharusnya gabah petani harus terjual Rp. 5000 perkilogram sebagaimana juga Bulog membeli ke negara tetangga, tapi karena masuknya beras impor, maka terpaksa menyesuaikan dengan harga pasar menjadi sekitar Rp. 3.500 sampai Rp. 4000 perkilogram. Dari kisah sederhana ini secara gamblang dapat kita duga paraktek korupsi yang dilakukan oleh koruptor atau tikus-tikus dilumbung pangan. Bila asumsinya dalam sebulan Bulog mengimpor 200.000.000 kilogram beras, maka uang rakyat yang dikorupsinya adalah sekitar dua milyaran perbulan. Bukankah itu sebuah angka yang sangat fantastis?
Memang aneh, di negeri yang terus nestapa karena korupsi dan dililit utang, buruh dan abdi negara seperti PNS, TNI/POLRI digaji sangat murah, hingga mereka pun tak mampu beli beras yang harganya sedikit saja memberi untung bagi petani. Demi melindungi 20% buruh murah dan abdi negara ini, maka pemerintah tega mengorbankan nasib, cita-cita dan bahkan segala-galanya kehidupan masyarakat tani yang mayoritas 80% sebagai penghuni tetap di negara ini.
Harapan kedepan, hendaknya pertanian menjadi andalan dan fokus tetap pemerintah. Buanglah mimpi menjadi negara industri pabrikan, kecuali satu-satunya upaya memodernisasi industri pertanian. Karena pertanian adalah sudah merupakan karunia besar dan takdir Tuhan untuk memakmurkan negara ini.
Jangan sampai bangsa ini berulang kali terpuruk dan jatuh kelobang yang sama. Selama ini buruh dan petani Indonesia hanya dimanfaatkan oleh gerakan kapitalisme global, karena Indonesia adalah pangsa pasar yang empuk, murah didikte kepentingan asing, selain upah buruhnya yang sangat kecil. Akibatnya, dengan upah dan gaji yang kecil, maka buruh, pegawai negeri, termasuk buruh tani tak mampu lagi beli beras dengan harga yang standar atau normal. Paling tidak, kedepan harga beras bisalah memberikan keuntungan sedikit bagi para petani pangan, karena dengan harga-harga produk pertanian yang baik, maka keuntungan bisa diraih oleh petani. Artinya hendaknya negara melalui regulasi dan kebijakannya, memberikan ruang cukup kepada petani agar ada sedikit keuntungan yang mereka dapatkan diluar ongkos produksi yang telah mereka keluarkan.
Sehingga secara berangsur bertahap kedepan, kita bisa mengejar kembali ketertinggalan-ketertinggalan kita dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam yang petani-petaninya jauh lebih sejahtera, karena mereka dari dulu konsekuen sebagai negara agraris. Mereka menikmati dirinya sebagai negara agraris dan negara mereka tidak perlu mengejar target sebagai negara industri pabrikan di Asean, cukuplah mereka menjadi negara agraris saja dengan segala konsekuensinya, dan mereka fokus dengan memodernisasi industri pertanian yang langsung menopang dan mensuport kehidupan petani-petani mereka.
Bila dicermati lebih lanjut, maka uang subsidi dan pembelian beras impor yang telah dikeluarkan negara, itupun sebenarnya juga berasal dari uang rakyat yang seharusnya dikelola oleh negara secara adil dan merata dengan mendahulukan asas kemaslahatan orang banyak. Hendaknya jangan sampai petani kita mati dilumbung padi, apa lagi lumbungnya terkuasai pula oleh tikus-tikus pengerat yang tahinya amat meracuni dan mematikan petani-petani.
Inilah sebongkah kisah sedih petani-petani dinegeri ini. Sepanjang masa kehidupan mereka selalu dikorbankan dan dikeroyok dari berbagai sisi, hingga mereka pun susah untuk bisa bangkit kembali, karena raga mereka disana-sini sudah babak-belur. Namun demikian, para petani pejuang itu masih memimpikan datangnya sang “ratu adil” yang berharap disuatu saat nanti nasib mereka bisa lebih baik. Sembari mereka pun terus berdendang meratapi nasibnya sendiri, menanti datangnya keberpihakan negara yang entah kapan kunjung datang.***
Penulis adalah dosen STIH Padang dan fungsionaris DPW PBB Sumbar.
PARTAI ISLAM DAN PENEGAKAN SYARIAT ISLAM
Fakta, Sejarah lahirnya Republik ini tidak lepas dari perseteruan politik antara gagasan Islamisme maupun sekulerisme. Secara gamblang kita dapat melihat polemik yang bernuansa ideologis ini berlansung secara intens dan simultan melalui perdebatan serius Soekarno dengan Natsir sebelum dan sesudah Indonesia merdeka. Hingga mencapai puncak, ketika munculnya tragedi Islam-sekularisme di masa Konstituante kurun 50-an.
Situasai terburuk semakin menjadi-jadi pasca dekrit 5 Juli 1959, ketika ruang diskursus (arena berjuang) bagi parpol Islam ataupun gerakan Islamisme lainnya terus menyempit. Sehingga tak dapat dielakkan pada akhirnya sepanjang lintasan orde lama, bermunculan perlawanan yang cukup serius dari “kalangan Islam” terhadap rezim Soekarno, seperti DI/TII dan PRRI/PERMESTA.
Begitu juga halnya di masa Orde Baru. Kondisi yang sama tetap berlanjut. Bahkan inilah masa yang paling suram bagi kalangan politisi Islam. Kala itu banyak diantara politisi Islam yang dikucilkan dan bahkan tidak sedikit tokoh-tokoh Islam terpaksa mendekam dalam penjara sebagai tahan politik Orde Baru. Sementara sebagian yang lain – ada pula yang coba-coba atau setengah-setengah (inkonsisten) dalam memperjuangkan pemberlakuan syariat Islam – secara terpaksa tidak bisa berbuat apa-apa dengan membiarkan dirinya sebagai “kambing congek” saja.
Sedikit menjadi lebih baik, diskursus yang mengedepankan syariat Islam itu kembali terbuka diera reformasi. Suasana politik yang semakin demokratis, perlahan memberi peluang dan ruang gerak baru bagi kalangan politisi maupun Parpol Islam untuk kembali mengetengahkan pemberlakuan syariat Islam. Beberapa partai seperti PBB, PPP, PKS cukup gigih menegakkan Syariat Islam itu.
Sekalipun kenyataannya, apa yang diharapkan malah sangat jauh berbeda dengan realitas sesungguhnya. Justru alangkah disayangkan, ditengah realitas ummat Islam yang mayoritas, perolehan suara Parpol Islam dari dua kali pemilu yang terjadi di era reformasi tidak lebih dari 20 %.
Betapa ironis - karena paling tidak bisa dijadikan asumsi sementara, bahwa sesungguhnya banyak orang yang masih meragukan keseriusan Parpol Islam untuk memperjuangkan perberlakuan syariat Islam di negara ini. Apa lagi kalau melihat ketidaksiapan para politisi Islam secara konsep untuk memberlakuan syariat Islam ditengah-tengah ummatnya sendiri. Seperti yang sudah-sudah – gerakan seputar pemberlakuan syariat Islam - hanya sekedar “formalisme”. Semacam penyakit yang menghendaki semua harus serba disebut dengan label Islam, tanpa ada upaya mendalami lebih jauh tentang apa yang disebut Islam. Misalnya, ada yang disebut Islam tetapi sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam, ada yang tidak disebut Islam justru sesuai dengan ajaran Islam. Sementara Islam itu sendiri – boleh jadi sama halnya dengan agama lain – justru lebih mementingkan isi ketimbang sebutan.
Syariat Islam : Baru Sebatas Formalisme
Dalam soal formalisme ini, mari kita cermati dengan seksama apa yang dikatakan oleh Syafii Ma’arif mantan ketua PP Muhammadiyah disebuah kesempatan di Padang. Beliau pernah mencurigai tuntutan pemberlakuan syariat Islam hanyalah sebagai “dagangan politik” bagi kalangan politisi Islam. Malahan Ia meragukan bila seluruh rakyat Indonesia, termasuk kalangan Islam itu sendiri setuju dengan pemberlakuan syariat Islam. Tegasnya, Syafii malah lebih yakin bahwa gagasan-gagasan politisi Islam itu akan kandas ditengah jalan, mengingat banyaknya kalangan politisi Islam itu sendiri yang memperjuangkan pemberlakuan syariat Islam sebagai dasar negara hanya sebagai basa-basi, slogan kosong, dan cerita-cerita bualan yang justru tidak difahami dan dihayatinya secara mendalam.
Begitu juga dengan Dahlan Danuraharjo, pendiri HMI dan tokoh Islam yang dulu dekat dengan Presiden Soekarno juga pernah mewanti-wanti, kalau diantara kalangan ummat Islam, bahkan kalau boleh disebut dikalangan pemimpin Islam yang persepsinya keliru tentang ajaran Islam. Mereka dihinggapi semacam “fixed idea”, yaitu apa yang dianggap perintah tapi perintah itu sebenarnya tidak ada, dalam hal ini Ia contohkan mengenai Negara Islam, sebenarnya tidak ada. Menurut Dahlan bahwa Al Qur’an atau Hadis tidak ada memerintahkan ummat Islam untuk mendirikan Negara Islam. Terkecuali perintah mewujudkan negara yang adil dan makmur.
Dahlan juga mengingatkan, bahwa kekeliruan yang fatal jika memahami artikulasi wahyu sebagai ideologi. Pada hal wahyu itu adalah jauh lebih tinggi tingkatannya dari ideologi. Wahyu yang datangnya dari Allah, sementara ideologi hanya muncul dari pikiran manusia semata. Kekeliruan ini juga paralel dengan pemahaman yang salah tentang apa itu Islam, selain mungkin juga karena pemahaman yang kurang tepat mengenai apa itu ideologi.
Terlepas kedua pendapat diatas masih debatabel, akan tetapi fakta yang mempersepsikan Islam sama dengan Ideologi, sebagaimana banyak dianut oleh penggerak-penggerak dan para politisi dunia Islam (Ali Syariati, Malik Bin Nabi, dan Osama Bin Laden) sering membawa akibat yang parah bagi ummat Islam diberbagai belahan dunia. Seperti realitas ummat Islam yang mengenaskan di Aljazair, Irak, Iran, Libya, Bosnia, Afganistan, Palestina, Lebanon dan beberapa negara bekas Uni Soviet. Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia. Hal mana konflik politik semacam ini sering kali menimbulkan persoalan yang pada akhirnya menemui kebuntuan, ibarat “jalan tak ada ujung”. Semacam konflik politik yang “tak kunjung berkesudahan”, demikian kampiun politik Deliar Noer pernah bilang.
Nampaknya kalangan ummat Islam sendiri selama ini hanya terlalu menitik beratkan kepada pemahaman aqidah dan ibadah saja. Sementara disisi lain masih amat kurang membawa ummat kepada pemahaman dan penghayatan akan ajaran-ajaran Islam dibidang kemasyarakatan dan kenegaraan yang menyeluruh (konprehensif). Dalam konteks ini, patut digaris bawahi, bahwa banyak kalangan pemimpin Islam yang hanyut dalam apa yang disebut formalisme, jargonisme dan sloganisme keagamaan yang sempit dan sentimentil. Paling-paling yang sering dikemukakan ialah bahwa orang yang mabuk harus dicambuk, yang mencuri dipotong tangannya, dan yang berzina dirajam.
Bila demikian halnya ; apakah semua ajaran Islam dibidang kehidupan bernegara hanya terdiri tiga hal itu saja - yang nota bone masih harus dikaji lebih jauh lagi. Lalu., apakah tiga perintah itu boleh dilaksanakan secara harpiah begitu ? Inilah beberapa pertanyaan yang signifikan untuk dijawab sendiri oleh kalangan ummat Islam dan parpol Islam. Terutama sekali beban ini ada dipundak kalangan pemimpin Islam, agar dalam upaya memberlakukan syariat Islam itu tidak melulu ditertawakan sebagai “formalisme” belaka.
Mungkin ada baiknya bagi kalangan politisi Islam, hendaknya memaknai dengan baik apa yang dikemukakan oleh Syafii Ma’arif, dimana ide-ide Negara Islam itu perlu didukung oleh kesiapan pengetahuan dan landasan sosial yang memadai. Apa lagi, mengingat ruang lingkup syariat Islam itu cukup luas dan kompleks – yang melingkupi segala bidang kehidupan manusia, seperti, ekonomi, sosial budaya, hukum dan politik.
Polemik ideologis yang berulang-ulang – katakanlah demikian – kedepannya diharapkan janganlah membawa kesuraman baru bagi kalangan ummat Islam. Sebab tidak dapat dipungkiri, sejarah juga mencatat dengan rapi berbagai kekerasan yang muncul sepanjang lintasan ini.
Sementara menyangkut tujuan yang subtantif untuk mencapai cita-cita negara yang utama, yakni mencapai masyarakat yang adil dan makmur tak pernah kunjung kesampaian. Entah kapan selesainya, yang jelas perjuangan itu tetap dihembuskan, sekalipun nyatanya sampai sekarang ini hasilnya belum menunjukkan perubahan yang signifkan. Dalam ungkapan Minang disebut “bak maeto kain sarung”. ***
Penulis adalah Dosen STIH Padang dan Pengurus DPW PBB Sumatera Barat
MASSA MENGAMBANG DAN GOMBALISME POLITIK ELITE
Fakta, Massa mengambang (floating mass) adalah konstituen partai yang tidak terikat sama sekali dengan stempel fungsionaris dan struktural partai. Kecenderungan floting mass ini hanya sekedar ikut-ikutan “meramaikan alek”, bukan kader, bukan pula suport sistem, karena cuma ikut trendi. Tingkat panatisme mereka terhadap partai sangat rendah. Lain halnya dengan kader partai yang secara ideologis sangat panatik dan taklik.
Lalu apa hubungan floating mass dengan gombalisme politik elite? Sebuah pertanyaan mudah, tapi bisa cukup rumit dijawab. Kedua hal tersebut diatas, baik floating mass maupun elite politik saling membutuhkan satu sama lainnya. “Ada semut ada gula” dimana ada massa disitu elite cari makan. Elite partai adalah ibarat kaum adam, status mereka perjaka tinting atau duda yang naksir kaum hawa yang masih gadis perawan.
Secara kenyatannya pengalaman mereka yang pemula tentu saja masih sangat minim, sekalipun ada diantaranya yang berprestasi dan mumpuni, yakni karena niat mereka yang lurus dan ihtiar yang kuat. Toh tetap saja, tidak sedikit diantara mereka itu, “besar pasak dari pada tiang”.
Kecantikan wajah dan kemolekan yang membaluti tubuh sang perawan menjadi rebutan para kaula Adam. Effeknya adalah sang Adam pun seolah tak mau kalah, mereka tak henti-hentinya bersolek saban hari, disetiap kesempatan dan momentum, menebar simpatik dan tabur pesona. Sang jejaka bagaimanapun juga adalah mahkluk liar yang cenderung mengaktifkan segala potensi yang dimilikinya untuk memancing simpati dan birahi sang hawa. Begitu juga halnya dengan elite politik, cenderung memanipulasi keadaan dan tebar pesona untuk menarik simpati sang target.
Dalam hal ini, pejuang yang masih bujangan tentunya tak lupa melakukan tipuan-tipuan untuk menjerat sang dara. Dengan kata lain, kecenderungan menghalalalkan segala cara, termasuk merayu, menggombal dan mengerahkan segala tipu-daya, mereka lakukan untuk mendapatkan target yang menjadi intaiannya. Begitu juga sebaliknya sang betina, menikmati sangat gombalisme yang ditawarkan kaum Adam, sekalipun mereka tahu kalau rayuan maut itu adalah “bisa” yang mematikan. Bahkan mereka nikmati sampai kepuncak birahi, biarpun ujung-ujungnya janji-janji itu hanya kepalsuan belaka.
Kesadaran Politik dan Partisipasi Politik
Di Indonesia partisipasi politik warganya cukup tinggi. Menurut penelitian tingkat partisipasi politik di Indonesia bisa mencapai angka 90 %, bahkan disebut-sebut sebagai yang tertinggi didunia. Bandingkan dengan Amerika Serikat sebagai negara yang dikenal kampium demokrasi, partisipasi rakyatnya hanya melibatkan 40 % warganya dalam setiap ajang pemilu.
Sungguh mengherankan dan mencengangkan kita, karena prameter untuk menilai kadar demokrasi itu sendiri masih menggunakan pradikma kesadaran politik maupun partisipasi politik. Justru anehnya dalam parakteknya di Indonesia secara kuantitas kesadaran politik dan partisipasi politik rakyat sangat menonjol. Entahlah secara kualitatif - penilaiannya - bisa jadi sangat relatif.
Memang kita sangat bangga dengan partisipasi politik rakyat Indonesia hingga hari ini, sekalipun secara kualitas kesadaran politik warga negara Indonesia itu masih berpeluang untuk dipertanyakan? Semuanya serba semu dan tidak terukur. Jadi susah menilai kesadaran politik rakyat secara kualitatif. Di musim pemilu, banyak aktivis mahasiswa, akademisi dan aktivis NGO lebih tertarik menjadi pemantau pemilu saja, mereka cenderung tidak memilih (golput) dan merasa tidak perlu terlibat dalam politik praktis. Mereka sangat takut dikatakan partisan, tidak netral atau tidak indeffenden. Ironisnya golongan ini dikatakan melek politik, memahami politik, bahkan mereka amat sering menjadi pegiat dan menjadi narasumber dalam kegiatan pendidikan politik rakyat (civic edicuation) yang biasanya dibiayai oleh luar negeri. Apakah mereka yang memposisikan diri demikian ini bisa dikatakan memiliki kesadaran politik?
Disisi lain, beberapa indikasi menunjukan, bahwa kesadaran politik elite berbeda dengan kesadaran politik awam. Kesadaran politik elite biasanya muncul karena mereka sendiri adalah politisi praktis. Sementara kesadaran politik floting mass hanya muncul secara sporadis, instan dan spontan, karena mereka hanya dijadikan objek politik disaat kampanye berlangsung. Sekaligus dijadikan objek rebutan para politisi untuk menyalurkan hasrat politiknya dengan cara mengumbar janji-janji, bujuk-rayu, ramantisme politik dan gombalisme politik.
Secara sosiologis, situasi politik rakyat tercermin dari prilaku politisi elite. Prilaku pemilih atau konstituen setali tiga uang dengan prilaku politisi elite. Bila politisi berprilaku absurt dan koruptif, maka kondisi rakyatnya juga tidak jauh berbeda. Kecenderungan dilapangan, dagangan yang laku dijual bukanlah program partai yang rasional, melainkan kemampuan mengartikulasikan dan mensinergikan nilai-nilai absurtisme dan materialisme ditengah-tengah masyarakat pemilih. Jargonisme dan doktrinisme masih cukup ampuh untuk diterapkan bagi masyarakat yang awam politik. Dengan kata lain, sepanjang floting mass itu masih hidup, maka jargonisme dan gombalisme masih perlu sebagai media politik praktis untuk memenangkan pemilu. Bahkan kebanyakan rakyat Indonesia, masih menikmati permainan manipulatif ini sampai sekarang. Sama halnya ketika wanita, tak bisa lepas dari kebutuhan untuk dicinta, disayang, dibuai, dipuji dan dirayu (tiga kata terakhir yang membuat sang dara menjadi terlena). Wallahu Allam.***
DERITA PETANI DI NEGERI “KOLAM SUSU”
Oleh : Fauzan Zakir
Fakta, Indonesia sejak dulu kala, sudah dikenal sebagai negeri pertanian yang subur. Negeri nyiur melambai yang dianugrahi Tuhan 1001 keelokan, sepotong surga yang diturunkan Tuhan dari langit, kaya suber daya alam dan bak kata pujangga, “gemah ripah loh jenawi”. Sehingga konon kemudian, hal ini juga yang membuat “raja-raja klana” berbetah-betah tinggal di negeri ini hingga berabad-abad lamanya.
Tapi ironisnya, petani sampai hari ini, justru menjerit kepedihan dinegeri yang katanya “kolam susu”. Seolah anugrah Ilahi yang terbentang di persada Indonesia ini, hanyalah angin sorga yang nompang lewat. Apa lagi dengan realitas terbuka diseluruh pelosok tanah air, petani-petani hidup dalam kondisi memprihatinkan, menggenaskan dan kemiskinan tiada tara.
Banyak petani Indonesia, ketika memilih jadi petani, membuat mereka risau dan berpikir dua kali. Sebab dengan memilih menjadi petani, mereka berarti siap menderita. Bahkan dalam kondisi sangat tertekan, mereka juga masih terhantui dengan harga pupuk yang mahal, kemungkinan gagal panen, puso, serangan hama, cuaca yang tidak kompromi, bencana alam sebagai akibat ulah manusia dan termasuk kebijakan pemerintah yang tidak memihak petani.
Banyak sawah sekarang diplosok-plosok negeri dibiarkan saja terlantar oleh yang empunya, karena ongkos produksi bertani sawah lebih tinggi dari hasil penjualan pasca panen. Harga beras yang murah membuat petani separo hati untuk menjadikan sawah-sawah mereka. Kalaupun sawah dikerjakan, bukan berarti mereka hendak mencari untung, tapi cuma sekedar mengisi hari-hari dan mencoba menghalau kegundahan yang menyelimuti mereka siang dan malam.
Kebijakan negara mengimpor beras untuk menekan harga gabah petani sungguh memukul mental dan kinerja petani. Negara lebih suka mensubsidi negara asal pengimpor beras ketimbang mensubsidi petani sendiri. Pada hal pembelian beras ke Thailan maupun Vietnam dengan harga tinggi dilakukan dengan memakai dana APBN yang nota bone adalah juga merupakan uang rakyat, lalu kemudian di drop lagi ke pasaran melalui mekanisme subsidi dengan harga murah sekali.
Katanya supaya menjamin agar harga beras tetap stabil dan murah. Pada hal, bila harga beras petani memadai atau sesuai dengan harga standar Asean, maka Indonesia sebenarnya bisa ekspor beras dan swasembada beras. Sebab dengan harga yang baik, petani akan bergairah kembali mengerjakan sawah-sawahnya.
Tapi hal ini justru sebaliknya yang terjadi, negara yang dikenal agraris, kerjanya mengimpor beras. Harusnya sebagai negara agraris Indonesia konsisten mengekspor saja, atau meminimalisasi impor produk pertanian.
Tugas menteri perdagangan seharusnya memaksimalkan ekspor produk pertanian tropik, karena keunggulan Indonesia secara komparatif hanyalah produk pertanian tropik. Sementara ekspor barang-barang lux, seperti elektronik, speda motor, mobil dan barang mewah lainnya tidaklah membawa perubahan bagi rakyat. Barang-barang lux cukuplah diimpor, sebab selama ini industri Indonesia hanya industri “tukang jahit”, atau dikenal dengan industri perakitan saja. Termasuk Industri pertaniannya, petani hanya menjadi buruh tani. Sementara tanah-tanah perkebunan yang subur ini secara de fakto sudah mayoritas dikuasai oleh modal asing. Buruh dan petani Indonesia hanya dimanfaatkan, yakni tujuan pasar (pangsa pasar) dan upah buruh yang amat kecil. Akibatnya, dengan upah yang kecil, maka buruh tani tak mampu beli beras dengan harga yang standar atau lebih baik.
Sebagai perbandingan nyata adalah Thailan sebagai negara yang konsekuen dibidang agraris, petani mereka sejahtera, bahkan dari ekspor produk pertaniannya, petani mereka bisa beli barang-barang mewah buatan eropa sekalipun. Negara mereka tidak perlu mengejar target sebagai negara industri baru di Asean, cukuplah mereka menjadi negara agraris saja dengan segala konsekuensi logisnya dan hanya fokus memodernisasi industri pertanian yang langsung menopang kehidupan petani mereka.
Entahlah, di negeri yang terus nestapa karena korupsi dan dililit utang, buruh dan abdi negara seperti PNS, TNI/POLRI digaji sangat murah, hingga tak mampu beli beras yang harganya sedikit saja memberi untung bagi petani. Demi melindungi 20% buruh murah dan abdi negara ini, maka pemerintah tega mengorbankan nasib, cita-cita dan bahkan segala-galanya kehidupan masyarakat tani yang mayoritas 80%.
Menjadi aneh sekali, di Indonesia petanilah yang mensubsidi rakyat secara keseluruhan. Betapa muliannya petani kita itu, karena melalui cucur-peluh mereka sadar atau tidak sadar, telah mensubsidi rata-rata Rp 1.500 per kilogramnya dari beras yang kita komsumsi. Sebab bila dicermati, ternyata ongkos produksi petani untuk menghasilkan beras perkilogramnya jauh lebih besar dari harga jual beras di pasar.
Sudahlah petani itu rugi karena subsidi pribadi mereka sendiri, mereka pun tidak bisa menjual hasil pertaniannya sedikit diatas ongkos produksi, bahkan sebenarnya sungguh aneh, karena subsidi negara justru yang menikmatinya adalah negara asal pengimpor yang tentu saja banyak mengambil untung. Belum lagi praktek koruptif yang dilakukan ketika membeli beras dan ketika mendrop beras kepasaran.
Bahkan sungguh laur biasa, praktek korupsi yang terjadi disekitar impor beras. Misalnya Bulog sebagai perpanjangan tangan negara membeli beras Rp. 5000 perkilogram, biasanya itu hanya tertulis dalam kuitansi, sementara bayarnya cuma Rp. 4500 perkilogram. Korupsinya berarti Rp. 500 perkilogram. Lalu kemudian didrop ke distributor-distributor besar dengan harga subsidi sebesar Rp. 3000. Sementara Bulog sekali lagi mendapatkan komisi dari daroping ini, karena diam-diam juga menerima pembayaran Rp. 200 perkilogram dari distributor.
Sementara pada akhirnya harga beras impor tersebut dijual dipasaran dengan harga berpluktuasi sekitar Rp. 3500 perkilogram. Dengan demikian harga gabah petani lokal pun terpaksa ikut-ikutan anjlok, karena secara normalnya seharusnya terjual Rp. 5000, terpaksa turun menjadi Rp. 3000 sampai Rp. 4000 perkilogram.
Sementara pembelian beras keluar negeri secara langsung juga adalah dari uang rakyat yang secara mekanisme adalah amanah yang dikelola oleh negara. Memang betapa malang nasib mu wahai petani. Dari segala sisi terkena keroyok Sepanjang masa meratapi nasib dan keberpihakan negara juga tak kunjung datang.***
Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum Unand dan Dosen STIH Padang
Fakta, Wacana menghilangkan propinsi adalah diskusi populer yang belakangan ini muncul di Sumatera Barat. Barang kali karena wacana ini ditelorkan oleh Gamawan Fauzi yang nota bene adalah Gubernur Propinsi Sumatera Barat.
Di negeri ini sebenarnya tidak ada larangan bagi setiap warganya untuk mengemukakan ide, pikiran dan pendapat. Konstitusi dan undang-undang menjamin semua itu. Bahkan berwacana, bermimpi, berkhayal dan mengawang-awang sekalipun adalah hak yang bersangkutan masing-masing warga negara. Kalaupun misalnya ada yang “gila” karenanya, mungkin juga tidak jadi soal. Semua warga negara katakanlah, pejabat, parktisi, akademisi dan masyarakat badarai boleh-boleh saja untuk mengeluarkan ide, pikiran dan pendapat.
Namun bisa saja wacana menjadi persoalan atau bias, bahkan menjadi kontarproduktif dan menyimpang bila tidak disalurkan dengan tepat, sesuai dengan situasi dan kondisi, dalam istilah Minang tidak berkesesuaian dengan alur dan patut (alua jo patuik). Dalam istilah orang Maninjau sana disebut dengan istilah kompetensi. Kewenangan atau kompetensi inilah yang menarik dicermati bila dikaitkan dengan polemik atau perdebatan serius soal penghilangan eksistensi propinsi (otonom) yang terlanjur kepermukaan belakangan ini.
Sebagai ilustrasi sederhana mengambil contoh di pengadilan, maka tugas hakim yang pertama adalah memeriksa soal kompetensi gugatan atau dakwaan, apakah pengadilan berwenang atau tidak untuk mengadili sebuah perkara. Bila pengadilan berwenang, maka pemeriksaan lanjutan baru bisa dilakukan. Jadi bila mengambil pelajaran dari prosedural hukum di pengadilan, nampaknya penting bagi semua pihak agar memahami soal kompetensi ini lebih awal.
Bagi Gamawan sebagai Gubernur dan Kepala Daerah propinsi Sumatera Barat masih patutkah disaat ini, ketika rakyat sedang susah, petani dihadang impor beras, tanah ulayat yang kusut tak kunjung selesai, banyak bencana dan wabah, ekonomi morat-marit, korupsi yang meraja-lela, toh masih sempat-sempatnya berwacana? Apakah tidak terlalu naif, atau kebablasan? Sebab sungguh ironis, mengingat pekerjaan pokok di daerah belum terselesaikan dengan baik, sementara pak gubernur sibuk berwacana ria, yang sebenarnya lebih tepat dilakukan oleh seorang akademisi atau pejabat politik di Jakarta. Berbicara soal negara hari ini agaknya terlalu luas bagi seorang Gamawan, karena Gamawan belumlah teruji soal ini. Wajarlah bila Abel Tasman mempertanyakan implementasi kinerja Pak Gamawan terlebih dulu. Artinya berbuatlah terhadap daerah ini terlebih dahulu, baru berwacana menyusul kemudian bila sudah bekerja dan berprestasi.
Agaknya masyarakat masih sedang menunggu dan menguji kinerja Pak Gubernur yang relatif masih panjang . Apa lagi sampai sekarang ini masih banyak persoalan krusial di daerah yang belum terlaksana dan beberapa agenda di daerah yang terbengkalai total. Misalnya soal PP 84, pembangunan sektor riil yang awut-awutan, pembangunan fisik yang belum terkesan rafi (tambal sulam), efisiensi dan efektivitas pemerintahan ( STOK yang mubajirun), umumnya masih banyak yang belum bisa dilakukan oleh Pak Gamawan sebagai Gubernur Sumatera Barat yang dipilih secara langsung.
Mbok ya..besabarlah dulu Pak Gamawan, pemerintahan baru saja berjalan dua tahunan. Implementasi program kerja dan janji-janji terhadap rakyat ketika kampanye dulu masih jauh panggang dari api. Biarlah soal wacana yang menyangkut sistem pemerintahan dan bentuk negara ini dipikirkan oleh akademisi atau pakar yang kompeten dibidangnya atau para politisi Senayan Jakarta saja.
Yakinlah bila Pak Gamawan sedikit bersabar, dan bekerja giat untuk kebaikan rakyat, khususnya daerah Sumatera Barat ini, maka tunggulah keajaiban-keajaiban seperti sebelumnya selalu Pak Gamawan alami sendiri, begitu banyak keberuntungan dan berkah yang selalu datang dengan sendirinya, untuk itu saya termasuk yang mendo’akan selalu agar Pak Gamawan sukses dalam menjalankan aktivitas pemerintahannya sehari-hari.
Bila belajar dari kasus Gus Dur misalnya, maka pemerintahannya yang sibuk berwacana saja tidaklah laku dimata sebagian rakyat, sehingga beliau sendiri bisa lengser secepatnya ditengah jalan. Saya jadi curiga, Gus Dur ini juga salah ketika menerapkan kompetensi. Seharusnya pekerjaan presiden, gubernur, bupati/walikota (eksekutif) itu adalah menjalankan program kerja, implementasi dilapangan, sangat teknis memang, tapi bukanlah mengedepankan wacana saja, apa lagi seolah-olah wacana itu menjadi keutamaan. Padahal semuanya itu kebohongan publik semata.
Bagi Pak Gamawan mumpung masih banyak waktu, belum separah Gus Dur dan barangkali juga SBY, maka saran saya masih banyak pekerjaan yang sesegeranya harus dikerjakan, mulai sekarang ini marilah kita sedikit bicara, tapi banyak kerja (istilah Ibu Megawati rasanya masih relevan dan signifikan).
Biarlah SBY sibuk dengan pencitraannya, yang Pak Gamawan bekerja sajalah untuk daerah ini. Mudah-mudahan nanti Pak Gamawan bisa juga jadi menteri atau bahkan jadi presiden sekalian. Wait and see.. Wallahu Allam.***
Penulis adalah Advokat, Politisi PBB dan Dosen STIH Padang
DERITA PETANI DAN KORUPSI DI LUMBUNG BERAS
Fakta, Sekitar lima abad yang silam, bangsa-bangsa Asia seperti Cina, India, Persia dan Eropa sudah melakukan perdagangan dan berinteraksi langsung dengan penduduk-penduduk pribumi diseluruh pelosok nusantara, karena sedari dulu bangsa ini sudah dikenal sebagai negeri yang sangat kaya, subur dan melimpah sumber daya alam. Terutama hasil bumi maupun hasil pertaniannya, seperi kopra, cendana, gaharu, kopi dan rempah-rempahan.
Dalam cerita Jawa negeri ini dulu disebut dengan, “gemah ripah loh jenawi”. Bahkan dalam dendang anak negeri tahun 60-an disebut pula “negeri kolam susu”. Negeri yang luar biasa, bagaikan sepotong sorga yang diturunkan Tuhan dari langit.
Betapa banyak kisah dan sebutan-sebutan tentang negeri ini yang sangat indah dan elok. Namun kisah dan sebutan ini tidak selalu seindah namanya, malah justru sering kali membawa persoalan dan petaka besar bagi kehidupan rakyatnya. Hampir sepanjang masa, rakyatnya selalu hidup miskin, melarat dan menggenaskan, karena lama terjajah, baik oleh bangsa asing maupun oleh bangsa sendiri.
Apapun nama dan kisahnya, entah karena kebodohan semata, “kufur nikmat”, sungguh telah “menina-bobokkan” bangsa ini dalam waktu yang sangat lama. Bangsa ini tertidur pulas dihamparan “permadani hijau”, terhipnotis oleh “hembusan angin sepoi-sepoi basah khatulistiwa” dan terhanyut oleh “rayuan pulau kelapa”-nya.
Ironisnya semua itu hanyalah mimpi belaka, nyatanya nasib dan kehidupan para petani dinegeri ini tak seindah mimpi yang datang disetiap tidur mereka, karena realitanya, ketika mereka terbangun dan menghadapi kenyataan hidup mereka yang sebenarnya, justru kehidupan mereka sangatlah memprihatinkan dan menggenaskan.
Sungguh memuakkan, “terlahir sebagai petani di Indonesia, karena status kehidupan ini dipandang sangat rendah dan sebelah mata. Menjadi petani berarti siap untuk menderita. Bahkan dalam kondisi yang sangat tertekan sekalipun, mereka petani-petani melarat masih dihadapkan dengan harga pupuk yang terus melambung tinggi, ancaman gagal panen, karena pengaruh iklim yang tidak kompromi akibat pemanasan global, bencana alam banjir, longsor, gunung meletus dan gempa yang tiada henti, ancaman hama, ditambah segudang regulasi dan kebijakan pemerintah yang tidak pernah memihak kepada para petani.
Banyak sawah sekarang dipelosok-pelosok negeri dibiarkan terlantar oleh yang empunya, karena ongkos produksi bertani padi lebih tinggi dari hasil penjualan pasca panen. Harga beras yang murah membuat petani separo hati untuk menjadikan sawah-sawah mereka. Kalaupun sawah dikerjakan, bukan berarti mereka hendak mencari untung, tapi cuma sekedar mengisi hari-hari dan mencoba menghalau kegundahan yang menyelimuti mereka seharian, siang maupun malam.
Kebijakan negara mengimpor beras untuk menekan harga gabah petani sungguh memukul mental dan kinerja petani. Negara ini lebih suka mensubsidi negara asal pengimpor beras, ketimbang mensubsidi petani sendiri. Pada hal pembelian beras ke negara tetangga, seperti Thailand dan Vietnam dengan harga yang tinggi dilakukan dengan mekanisme impor berlabel subsidi. Ironisnya impor tersebut semuanya adalah memakai dana APBN yang nota bene adalah hasil pajak, cucuran keringat rakyat sendiri yang mana beras impor itu kemudian didistribusikan ke pasaran dalam negeri dengan harga yang murah, berdalihkan subsidi untuk rakyat, dengan program berkedok raskin, operasi pasar, beras murah dan sebagainya.
Regulasi terhadap impor-mengimpor beras dan praktek subsidi dilakukan negara dengan alasan agar harga beras murah dan terjangkau oleh rakyat. Dengan demikian, kebijakan impor beras, membuat seolah-olah negara peduli terhadap rakyat dan turut membantu rakyat miskin untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Kebohongan-kebohongan itupun terus terjadi, bahkan semakin terlegitimasi dengan alasan bahwa daya beli rakyat memang sangat rendah, maka dengan alasan tersebut pula, maka negara berkewajiban untuk memberi subsidi.
Tetapi sebenarnya dibalik semua itu, kebijakan impor berlabel subsidi tesebut menimbulkan kerugian yang sangat besar, karena parahnya telah mematikan jiwa dan semangat bertani para petani – yang menjadi penghuni secara mayoritas di negeri ini. Bahkan diluar itu sudah menjadi rahasia umum bahwa praktek impor beras sangat sarat dengan praktek korupsi. Faktanya sampai hari ini banyak kasus korupsi hebat yang terungkap di Bulog maupun diberbagai lembaga, instansi lainnya yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan pokok pangan rakyat.
Pada hal sebenarnya, bila harga beras dan produk pertanian lainnya petani tinggi, katakanlah memadai atau sesuai dengan harga standar di Asean, maka rakyat Indonesia sebenarnya bisa lebih sejahtera, karena bisa mengekspor beras dan produk pertanian lainnya itu dengan harga bersaing. Sebab dengan harga yang baik, logikanya petani akan bergairah kembali mengerjakan sawah-sawah mereka. Bahkan kalau semua pabrikan di Kerawang, Serang dan Banten kembali beralih fungsi dan peruntukannya seperti semula, maka kawasan itu bisa kembali menjadi lumbung pangan nasional dan negara ini bisa kembali swasembada pangan.
Dengan alasan demikian, perlu dipertanyakan, kok bisa dinegeri ini “petani kelaparan dilumbung padi”? Negara yang dikenal agraris, tanahnya subur, justru kerja pemerintah dan aparatusnya hanya mengimpor beras, jagung, gula, kacang tanah, kacang kedele, jeruk, durian dan lain-lain sebagainya, mana kala semuanya itu bisa ditanam di Indonesia. Bukankah seharusnya sebagai negara agraris, Indonesia cukup konsisten mengekspor produk-produk pertanian saja, karena eksistensi Indonesia dengan keunggulan alamiahnya (comparative adventage), mencakup seluruh produk-produk pertanian tropis tak pernah terbandingkan dengan bangsa-bangsa lain dibelahan dunia manapun.
Lagi pula, tugas menteri perdagangan Indonesia, sudah seharusnya memaksimalkan ekspor produk pertanian tropis, karena secara komparatif Indonesia unggul dibidang ini. Sementara ekspor barang-barang kebutuhan tertiar (lux), seperti elektronik, sepeda motor, mobil dan barang mewah lainnya yang menjadi andalan industri bangsa lain, ternyata tidak cocok diterapkan di Indonesia, karena ternyata sedikit pun tidak mampu merubah peningkatan tarap hidup buruh dan secara umum perekonomian rakyat Indonesia. Barang-barang tertier cukuplah diimpor, sebab selama inipun kehidupan industri Indonesia, hanyalah industri “tukang jahit”, atau dikenal dengan industri perakitan. Dimana oleh negara pemodal (investor), membangun pabrik di Indonesia adalah untuk tujuan effisiensi dan efektivitas produknya agar lebih menguntungkan secara ekonomis, karena upah buruh yang murah selain juga lebih mendekatkan dengan pangsa pasarnya.
Korupsi di Lumbung Pangan
Betapa malang nasip petani di negeri ini. Sudahlah petani dirugikan karena mereka mengeluarkan ongkos produksi yang mahal, mereka pun tidak bisa menjual hasil pertaniannya sedikit diatas ongkos produksi itu. Bahkan sebenarnya sangat aneh, karena subsidi yang diberikan negara ini, justru yang menikmati hasilnya adalah negara asal pengimpor yang tentu saja banyak mengambil untung. Belum lagi praktek koruptif yang dilakukan aparatus Bulog bersama rekananannya, ketika membeli beras maupun disaat mendistribusikan beras impor kepasaran dalam negeri.
Bahkan sungguh luar biasa, praktek korupsi yang terjadi disekitar impor beras cukup dihitung dengan asumsi dan logika yang sederhana. Bulog sebagai perpanjangan tangan negara bisa saja membeli beras ke negara tetangga dengan harga Rp. 5.000 perkilogram dengan memakai uang APBN, itu pun biasanya hanya tertulis dalam bentuk kuitansi, sementara bayaran yang sebenarnya diterima importir cuma Rp. 4.500 perkilogram. Korupsinya sudah bisa dibayangkan sekitar Rp. 500 perkilogram. Lalu bila beras impor tersebut sampai ditangan Bulog, kemudian beras tersebut didistribusikan ke rekanan dan distributor dengan harga yang sudah disubsidi oleh negara Rp. 1.500 perkilogram, menjadi sebesar Rp. 3000, maka disinilah sekali lagi Bulog “panen” mendapatkan komisi dari distribusi ini, karena diam-diam juga menerima komisi Rp. 200 perkilogram dari para distributor dan rekanan.
Sementara oleh distributor dan rekanan pada akhirnya harga beras impor tersebut dijual dipasaran dengan harga berpluktuasi sekitar Rp. 3.500 perkilogram. Dengan berdalih praktek stabilisasi harga ala Bulog dan pemerintah, maka berakibat harga gabah petani lokal pun anjlok. Pada hal supaya untung seharusnya gabah petani harus terjual Rp. 5000 perkilogram sebagaimana juga Bulog membeli ke negara tetangga, tapi karena masuknya beras impor, maka terpaksa menyesuaikan dengan harga pasar menjadi sekitar Rp. 3.500 sampai Rp. 4000 perkilogram. Dari kisah sederhana ini secara gamblang dapat kita duga paraktek korupsi yang dilakukan oleh koruptor atau tikus-tikus dilumbung pangan. Bila asumsinya dalam sebulan Bulog mengimpor 200.000.000 kilogram beras, maka uang rakyat yang dikorupsinya adalah sekitar dua milyaran perbulan. Bukankah itu sebuah angka yang sangat fantastis?
Memang aneh, di negeri yang terus nestapa karena korupsi dan dililit utang, buruh dan abdi negara seperti PNS, TNI/POLRI digaji sangat murah, hingga mereka pun tak mampu beli beras yang harganya sedikit saja memberi untung bagi petani. Demi melindungi 20% buruh murah dan abdi negara ini, maka pemerintah tega mengorbankan nasib, cita-cita dan bahkan segala-galanya kehidupan masyarakat tani yang mayoritas 80% sebagai penghuni tetap di negara ini.
Harapan kedepan, hendaknya pertanian menjadi andalan dan fokus tetap pemerintah. Buanglah mimpi menjadi negara industri pabrikan, kecuali satu-satunya upaya memodernisasi industri pertanian. Karena pertanian adalah sudah merupakan karunia besar dan takdir Tuhan untuk memakmurkan negara ini.
Jangan sampai bangsa ini berulang kali terpuruk dan jatuh kelobang yang sama. Selama ini buruh dan petani Indonesia hanya dimanfaatkan oleh gerakan kapitalisme global, karena Indonesia adalah pangsa pasar yang empuk, murah didikte kepentingan asing, selain upah buruhnya yang sangat kecil. Akibatnya, dengan upah dan gaji yang kecil, maka buruh, pegawai negeri, termasuk buruh tani tak mampu lagi beli beras dengan harga yang standar atau normal. Paling tidak, kedepan harga beras bisalah memberikan keuntungan sedikit bagi para petani pangan, karena dengan harga-harga produk pertanian yang baik, maka keuntungan bisa diraih oleh petani. Artinya hendaknya negara melalui regulasi dan kebijakannya, memberikan ruang cukup kepada petani agar ada sedikit keuntungan yang mereka dapatkan diluar ongkos produksi yang telah mereka keluarkan.
Sehingga secara berangsur bertahap kedepan, kita bisa mengejar kembali ketertinggalan-ketertinggalan kita dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam yang petani-petaninya jauh lebih sejahtera, karena mereka dari dulu konsekuen sebagai negara agraris. Mereka menikmati dirinya sebagai negara agraris dan negara mereka tidak perlu mengejar target sebagai negara industri pabrikan di Asean, cukuplah mereka menjadi negara agraris saja dengan segala konsekuensinya, dan mereka fokus dengan memodernisasi industri pertanian yang langsung menopang dan mensuport kehidupan petani-petani mereka.
Bila dicermati lebih lanjut, maka uang subsidi dan pembelian beras impor yang telah dikeluarkan negara, itupun sebenarnya juga berasal dari uang rakyat yang seharusnya dikelola oleh negara secara adil dan merata dengan mendahulukan asas kemaslahatan orang banyak. Hendaknya jangan sampai petani kita mati dilumbung padi, apa lagi lumbungnya terkuasai pula oleh tikus-tikus pengerat yang tahinya amat meracuni dan mematikan petani-petani.
Inilah sebongkah kisah sedih petani-petani dinegeri ini. Sepanjang masa kehidupan mereka selalu dikorbankan dan dikeroyok dari berbagai sisi, hingga mereka pun susah untuk bisa bangkit kembali, karena raga mereka disana-sini sudah babak-belur. Namun demikian, para petani pejuang itu masih memimpikan datangnya sang “ratu adil” yang berharap disuatu saat nanti nasib mereka bisa lebih baik. Sembari mereka pun terus berdendang meratapi nasibnya sendiri, menanti datangnya keberpihakan negara yang entah kapan kunjung datang.***
Penulis adalah dosen STIH Padang dan fungsionaris DPW PBB Sumbar.
PARTAI ISLAM DAN PENEGAKAN SYARIAT ISLAM
Fakta, Sejarah lahirnya Republik ini tidak lepas dari perseteruan politik antara gagasan Islamisme maupun sekulerisme. Secara gamblang kita dapat melihat polemik yang bernuansa ideologis ini berlansung secara intens dan simultan melalui perdebatan serius Soekarno dengan Natsir sebelum dan sesudah Indonesia merdeka. Hingga mencapai puncak, ketika munculnya tragedi Islam-sekularisme di masa Konstituante kurun 50-an.
Situasai terburuk semakin menjadi-jadi pasca dekrit 5 Juli 1959, ketika ruang diskursus (arena berjuang) bagi parpol Islam ataupun gerakan Islamisme lainnya terus menyempit. Sehingga tak dapat dielakkan pada akhirnya sepanjang lintasan orde lama, bermunculan perlawanan yang cukup serius dari “kalangan Islam” terhadap rezim Soekarno, seperti DI/TII dan PRRI/PERMESTA.
Begitu juga halnya di masa Orde Baru. Kondisi yang sama tetap berlanjut. Bahkan inilah masa yang paling suram bagi kalangan politisi Islam. Kala itu banyak diantara politisi Islam yang dikucilkan dan bahkan tidak sedikit tokoh-tokoh Islam terpaksa mendekam dalam penjara sebagai tahan politik Orde Baru. Sementara sebagian yang lain – ada pula yang coba-coba atau setengah-setengah (inkonsisten) dalam memperjuangkan pemberlakuan syariat Islam – secara terpaksa tidak bisa berbuat apa-apa dengan membiarkan dirinya sebagai “kambing congek” saja.
Sedikit menjadi lebih baik, diskursus yang mengedepankan syariat Islam itu kembali terbuka diera reformasi. Suasana politik yang semakin demokratis, perlahan memberi peluang dan ruang gerak baru bagi kalangan politisi maupun Parpol Islam untuk kembali mengetengahkan pemberlakuan syariat Islam. Beberapa partai seperti PBB, PPP, PKS cukup gigih menegakkan Syariat Islam itu.
Sekalipun kenyataannya, apa yang diharapkan malah sangat jauh berbeda dengan realitas sesungguhnya. Justru alangkah disayangkan, ditengah realitas ummat Islam yang mayoritas, perolehan suara Parpol Islam dari dua kali pemilu yang terjadi di era reformasi tidak lebih dari 20 %.
Betapa ironis - karena paling tidak bisa dijadikan asumsi sementara, bahwa sesungguhnya banyak orang yang masih meragukan keseriusan Parpol Islam untuk memperjuangkan perberlakuan syariat Islam di negara ini. Apa lagi kalau melihat ketidaksiapan para politisi Islam secara konsep untuk memberlakuan syariat Islam ditengah-tengah ummatnya sendiri. Seperti yang sudah-sudah – gerakan seputar pemberlakuan syariat Islam - hanya sekedar “formalisme”. Semacam penyakit yang menghendaki semua harus serba disebut dengan label Islam, tanpa ada upaya mendalami lebih jauh tentang apa yang disebut Islam. Misalnya, ada yang disebut Islam tetapi sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam, ada yang tidak disebut Islam justru sesuai dengan ajaran Islam. Sementara Islam itu sendiri – boleh jadi sama halnya dengan agama lain – justru lebih mementingkan isi ketimbang sebutan.
Syariat Islam : Baru Sebatas Formalisme
Dalam soal formalisme ini, mari kita cermati dengan seksama apa yang dikatakan oleh Syafii Ma’arif mantan ketua PP Muhammadiyah disebuah kesempatan di Padang. Beliau pernah mencurigai tuntutan pemberlakuan syariat Islam hanyalah sebagai “dagangan politik” bagi kalangan politisi Islam. Malahan Ia meragukan bila seluruh rakyat Indonesia, termasuk kalangan Islam itu sendiri setuju dengan pemberlakuan syariat Islam. Tegasnya, Syafii malah lebih yakin bahwa gagasan-gagasan politisi Islam itu akan kandas ditengah jalan, mengingat banyaknya kalangan politisi Islam itu sendiri yang memperjuangkan pemberlakuan syariat Islam sebagai dasar negara hanya sebagai basa-basi, slogan kosong, dan cerita-cerita bualan yang justru tidak difahami dan dihayatinya secara mendalam.
Begitu juga dengan Dahlan Danuraharjo, pendiri HMI dan tokoh Islam yang dulu dekat dengan Presiden Soekarno juga pernah mewanti-wanti, kalau diantara kalangan ummat Islam, bahkan kalau boleh disebut dikalangan pemimpin Islam yang persepsinya keliru tentang ajaran Islam. Mereka dihinggapi semacam “fixed idea”, yaitu apa yang dianggap perintah tapi perintah itu sebenarnya tidak ada, dalam hal ini Ia contohkan mengenai Negara Islam, sebenarnya tidak ada. Menurut Dahlan bahwa Al Qur’an atau Hadis tidak ada memerintahkan ummat Islam untuk mendirikan Negara Islam. Terkecuali perintah mewujudkan negara yang adil dan makmur.
Dahlan juga mengingatkan, bahwa kekeliruan yang fatal jika memahami artikulasi wahyu sebagai ideologi. Pada hal wahyu itu adalah jauh lebih tinggi tingkatannya dari ideologi. Wahyu yang datangnya dari Allah, sementara ideologi hanya muncul dari pikiran manusia semata. Kekeliruan ini juga paralel dengan pemahaman yang salah tentang apa itu Islam, selain mungkin juga karena pemahaman yang kurang tepat mengenai apa itu ideologi.
Terlepas kedua pendapat diatas masih debatabel, akan tetapi fakta yang mempersepsikan Islam sama dengan Ideologi, sebagaimana banyak dianut oleh penggerak-penggerak dan para politisi dunia Islam (Ali Syariati, Malik Bin Nabi, dan Osama Bin Laden) sering membawa akibat yang parah bagi ummat Islam diberbagai belahan dunia. Seperti realitas ummat Islam yang mengenaskan di Aljazair, Irak, Iran, Libya, Bosnia, Afganistan, Palestina, Lebanon dan beberapa negara bekas Uni Soviet. Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia. Hal mana konflik politik semacam ini sering kali menimbulkan persoalan yang pada akhirnya menemui kebuntuan, ibarat “jalan tak ada ujung”. Semacam konflik politik yang “tak kunjung berkesudahan”, demikian kampiun politik Deliar Noer pernah bilang.
Nampaknya kalangan ummat Islam sendiri selama ini hanya terlalu menitik beratkan kepada pemahaman aqidah dan ibadah saja. Sementara disisi lain masih amat kurang membawa ummat kepada pemahaman dan penghayatan akan ajaran-ajaran Islam dibidang kemasyarakatan dan kenegaraan yang menyeluruh (konprehensif). Dalam konteks ini, patut digaris bawahi, bahwa banyak kalangan pemimpin Islam yang hanyut dalam apa yang disebut formalisme, jargonisme dan sloganisme keagamaan yang sempit dan sentimentil. Paling-paling yang sering dikemukakan ialah bahwa orang yang mabuk harus dicambuk, yang mencuri dipotong tangannya, dan yang berzina dirajam.
Bila demikian halnya ; apakah semua ajaran Islam dibidang kehidupan bernegara hanya terdiri tiga hal itu saja - yang nota bone masih harus dikaji lebih jauh lagi. Lalu., apakah tiga perintah itu boleh dilaksanakan secara harpiah begitu ? Inilah beberapa pertanyaan yang signifikan untuk dijawab sendiri oleh kalangan ummat Islam dan parpol Islam. Terutama sekali beban ini ada dipundak kalangan pemimpin Islam, agar dalam upaya memberlakukan syariat Islam itu tidak melulu ditertawakan sebagai “formalisme” belaka.
Mungkin ada baiknya bagi kalangan politisi Islam, hendaknya memaknai dengan baik apa yang dikemukakan oleh Syafii Ma’arif, dimana ide-ide Negara Islam itu perlu didukung oleh kesiapan pengetahuan dan landasan sosial yang memadai. Apa lagi, mengingat ruang lingkup syariat Islam itu cukup luas dan kompleks – yang melingkupi segala bidang kehidupan manusia, seperti, ekonomi, sosial budaya, hukum dan politik.
Polemik ideologis yang berulang-ulang – katakanlah demikian – kedepannya diharapkan janganlah membawa kesuraman baru bagi kalangan ummat Islam. Sebab tidak dapat dipungkiri, sejarah juga mencatat dengan rapi berbagai kekerasan yang muncul sepanjang lintasan ini.
Sementara menyangkut tujuan yang subtantif untuk mencapai cita-cita negara yang utama, yakni mencapai masyarakat yang adil dan makmur tak pernah kunjung kesampaian. Entah kapan selesainya, yang jelas perjuangan itu tetap dihembuskan, sekalipun nyatanya sampai sekarang ini hasilnya belum menunjukkan perubahan yang signifkan. Dalam ungkapan Minang disebut “bak maeto kain sarung”. ***
Penulis adalah Dosen STIH Padang dan Pengurus DPW PBB Sumatera Barat
MASSA MENGAMBANG DAN GOMBALISME POLITIK ELITE
Fakta, Massa mengambang (floating mass) adalah konstituen partai yang tidak terikat sama sekali dengan stempel fungsionaris dan struktural partai. Kecenderungan floting mass ini hanya sekedar ikut-ikutan “meramaikan alek”, bukan kader, bukan pula suport sistem, karena cuma ikut trendi. Tingkat panatisme mereka terhadap partai sangat rendah. Lain halnya dengan kader partai yang secara ideologis sangat panatik dan taklik.
Lalu apa hubungan floating mass dengan gombalisme politik elite? Sebuah pertanyaan mudah, tapi bisa cukup rumit dijawab. Kedua hal tersebut diatas, baik floating mass maupun elite politik saling membutuhkan satu sama lainnya. “Ada semut ada gula” dimana ada massa disitu elite cari makan. Elite partai adalah ibarat kaum adam, status mereka perjaka tinting atau duda yang naksir kaum hawa yang masih gadis perawan.
Secara kenyatannya pengalaman mereka yang pemula tentu saja masih sangat minim, sekalipun ada diantaranya yang berprestasi dan mumpuni, yakni karena niat mereka yang lurus dan ihtiar yang kuat. Toh tetap saja, tidak sedikit diantara mereka itu, “besar pasak dari pada tiang”.
Kecantikan wajah dan kemolekan yang membaluti tubuh sang perawan menjadi rebutan para kaula Adam. Effeknya adalah sang Adam pun seolah tak mau kalah, mereka tak henti-hentinya bersolek saban hari, disetiap kesempatan dan momentum, menebar simpatik dan tabur pesona. Sang jejaka bagaimanapun juga adalah mahkluk liar yang cenderung mengaktifkan segala potensi yang dimilikinya untuk memancing simpati dan birahi sang hawa. Begitu juga halnya dengan elite politik, cenderung memanipulasi keadaan dan tebar pesona untuk menarik simpati sang target.
Dalam hal ini, pejuang yang masih bujangan tentunya tak lupa melakukan tipuan-tipuan untuk menjerat sang dara. Dengan kata lain, kecenderungan menghalalalkan segala cara, termasuk merayu, menggombal dan mengerahkan segala tipu-daya, mereka lakukan untuk mendapatkan target yang menjadi intaiannya. Begitu juga sebaliknya sang betina, menikmati sangat gombalisme yang ditawarkan kaum Adam, sekalipun mereka tahu kalau rayuan maut itu adalah “bisa” yang mematikan. Bahkan mereka nikmati sampai kepuncak birahi, biarpun ujung-ujungnya janji-janji itu hanya kepalsuan belaka.
Kesadaran Politik dan Partisipasi Politik
Di Indonesia partisipasi politik warganya cukup tinggi. Menurut penelitian tingkat partisipasi politik di Indonesia bisa mencapai angka 90 %, bahkan disebut-sebut sebagai yang tertinggi didunia. Bandingkan dengan Amerika Serikat sebagai negara yang dikenal kampium demokrasi, partisipasi rakyatnya hanya melibatkan 40 % warganya dalam setiap ajang pemilu.
Sungguh mengherankan dan mencengangkan kita, karena prameter untuk menilai kadar demokrasi itu sendiri masih menggunakan pradikma kesadaran politik maupun partisipasi politik. Justru anehnya dalam parakteknya di Indonesia secara kuantitas kesadaran politik dan partisipasi politik rakyat sangat menonjol. Entahlah secara kualitatif - penilaiannya - bisa jadi sangat relatif.
Memang kita sangat bangga dengan partisipasi politik rakyat Indonesia hingga hari ini, sekalipun secara kualitas kesadaran politik warga negara Indonesia itu masih berpeluang untuk dipertanyakan? Semuanya serba semu dan tidak terukur. Jadi susah menilai kesadaran politik rakyat secara kualitatif. Di musim pemilu, banyak aktivis mahasiswa, akademisi dan aktivis NGO lebih tertarik menjadi pemantau pemilu saja, mereka cenderung tidak memilih (golput) dan merasa tidak perlu terlibat dalam politik praktis. Mereka sangat takut dikatakan partisan, tidak netral atau tidak indeffenden. Ironisnya golongan ini dikatakan melek politik, memahami politik, bahkan mereka amat sering menjadi pegiat dan menjadi narasumber dalam kegiatan pendidikan politik rakyat (civic edicuation) yang biasanya dibiayai oleh luar negeri. Apakah mereka yang memposisikan diri demikian ini bisa dikatakan memiliki kesadaran politik?
Disisi lain, beberapa indikasi menunjukan, bahwa kesadaran politik elite berbeda dengan kesadaran politik awam. Kesadaran politik elite biasanya muncul karena mereka sendiri adalah politisi praktis. Sementara kesadaran politik floting mass hanya muncul secara sporadis, instan dan spontan, karena mereka hanya dijadikan objek politik disaat kampanye berlangsung. Sekaligus dijadikan objek rebutan para politisi untuk menyalurkan hasrat politiknya dengan cara mengumbar janji-janji, bujuk-rayu, ramantisme politik dan gombalisme politik.
Secara sosiologis, situasi politik rakyat tercermin dari prilaku politisi elite. Prilaku pemilih atau konstituen setali tiga uang dengan prilaku politisi elite. Bila politisi berprilaku absurt dan koruptif, maka kondisi rakyatnya juga tidak jauh berbeda. Kecenderungan dilapangan, dagangan yang laku dijual bukanlah program partai yang rasional, melainkan kemampuan mengartikulasikan dan mensinergikan nilai-nilai absurtisme dan materialisme ditengah-tengah masyarakat pemilih. Jargonisme dan doktrinisme masih cukup ampuh untuk diterapkan bagi masyarakat yang awam politik. Dengan kata lain, sepanjang floting mass itu masih hidup, maka jargonisme dan gombalisme masih perlu sebagai media politik praktis untuk memenangkan pemilu. Bahkan kebanyakan rakyat Indonesia, masih menikmati permainan manipulatif ini sampai sekarang. Sama halnya ketika wanita, tak bisa lepas dari kebutuhan untuk dicinta, disayang, dibuai, dipuji dan dirayu (tiga kata terakhir yang membuat sang dara menjadi terlena). Wallahu Allam.***
DERITA PETANI DI NEGERI “KOLAM SUSU”
Oleh : Fauzan Zakir
Fakta, Indonesia sejak dulu kala, sudah dikenal sebagai negeri pertanian yang subur. Negeri nyiur melambai yang dianugrahi Tuhan 1001 keelokan, sepotong surga yang diturunkan Tuhan dari langit, kaya suber daya alam dan bak kata pujangga, “gemah ripah loh jenawi”. Sehingga konon kemudian, hal ini juga yang membuat “raja-raja klana” berbetah-betah tinggal di negeri ini hingga berabad-abad lamanya.
Tapi ironisnya, petani sampai hari ini, justru menjerit kepedihan dinegeri yang katanya “kolam susu”. Seolah anugrah Ilahi yang terbentang di persada Indonesia ini, hanyalah angin sorga yang nompang lewat. Apa lagi dengan realitas terbuka diseluruh pelosok tanah air, petani-petani hidup dalam kondisi memprihatinkan, menggenaskan dan kemiskinan tiada tara.
Banyak petani Indonesia, ketika memilih jadi petani, membuat mereka risau dan berpikir dua kali. Sebab dengan memilih menjadi petani, mereka berarti siap menderita. Bahkan dalam kondisi sangat tertekan, mereka juga masih terhantui dengan harga pupuk yang mahal, kemungkinan gagal panen, puso, serangan hama, cuaca yang tidak kompromi, bencana alam sebagai akibat ulah manusia dan termasuk kebijakan pemerintah yang tidak memihak petani.
Banyak sawah sekarang diplosok-plosok negeri dibiarkan saja terlantar oleh yang empunya, karena ongkos produksi bertani sawah lebih tinggi dari hasil penjualan pasca panen. Harga beras yang murah membuat petani separo hati untuk menjadikan sawah-sawah mereka. Kalaupun sawah dikerjakan, bukan berarti mereka hendak mencari untung, tapi cuma sekedar mengisi hari-hari dan mencoba menghalau kegundahan yang menyelimuti mereka siang dan malam.
Kebijakan negara mengimpor beras untuk menekan harga gabah petani sungguh memukul mental dan kinerja petani. Negara lebih suka mensubsidi negara asal pengimpor beras ketimbang mensubsidi petani sendiri. Pada hal pembelian beras ke Thailan maupun Vietnam dengan harga tinggi dilakukan dengan memakai dana APBN yang nota bone adalah juga merupakan uang rakyat, lalu kemudian di drop lagi ke pasaran melalui mekanisme subsidi dengan harga murah sekali.
Katanya supaya menjamin agar harga beras tetap stabil dan murah. Pada hal, bila harga beras petani memadai atau sesuai dengan harga standar Asean, maka Indonesia sebenarnya bisa ekspor beras dan swasembada beras. Sebab dengan harga yang baik, petani akan bergairah kembali mengerjakan sawah-sawahnya.
Tapi hal ini justru sebaliknya yang terjadi, negara yang dikenal agraris, kerjanya mengimpor beras. Harusnya sebagai negara agraris Indonesia konsisten mengekspor saja, atau meminimalisasi impor produk pertanian.
Tugas menteri perdagangan seharusnya memaksimalkan ekspor produk pertanian tropik, karena keunggulan Indonesia secara komparatif hanyalah produk pertanian tropik. Sementara ekspor barang-barang lux, seperti elektronik, speda motor, mobil dan barang mewah lainnya tidaklah membawa perubahan bagi rakyat. Barang-barang lux cukuplah diimpor, sebab selama ini industri Indonesia hanya industri “tukang jahit”, atau dikenal dengan industri perakitan saja. Termasuk Industri pertaniannya, petani hanya menjadi buruh tani. Sementara tanah-tanah perkebunan yang subur ini secara de fakto sudah mayoritas dikuasai oleh modal asing. Buruh dan petani Indonesia hanya dimanfaatkan, yakni tujuan pasar (pangsa pasar) dan upah buruh yang amat kecil. Akibatnya, dengan upah yang kecil, maka buruh tani tak mampu beli beras dengan harga yang standar atau lebih baik.
Sebagai perbandingan nyata adalah Thailan sebagai negara yang konsekuen dibidang agraris, petani mereka sejahtera, bahkan dari ekspor produk pertaniannya, petani mereka bisa beli barang-barang mewah buatan eropa sekalipun. Negara mereka tidak perlu mengejar target sebagai negara industri baru di Asean, cukuplah mereka menjadi negara agraris saja dengan segala konsekuensi logisnya dan hanya fokus memodernisasi industri pertanian yang langsung menopang kehidupan petani mereka.
Entahlah, di negeri yang terus nestapa karena korupsi dan dililit utang, buruh dan abdi negara seperti PNS, TNI/POLRI digaji sangat murah, hingga tak mampu beli beras yang harganya sedikit saja memberi untung bagi petani. Demi melindungi 20% buruh murah dan abdi negara ini, maka pemerintah tega mengorbankan nasib, cita-cita dan bahkan segala-galanya kehidupan masyarakat tani yang mayoritas 80%.
Menjadi aneh sekali, di Indonesia petanilah yang mensubsidi rakyat secara keseluruhan. Betapa muliannya petani kita itu, karena melalui cucur-peluh mereka sadar atau tidak sadar, telah mensubsidi rata-rata Rp 1.500 per kilogramnya dari beras yang kita komsumsi. Sebab bila dicermati, ternyata ongkos produksi petani untuk menghasilkan beras perkilogramnya jauh lebih besar dari harga jual beras di pasar.
Sudahlah petani itu rugi karena subsidi pribadi mereka sendiri, mereka pun tidak bisa menjual hasil pertaniannya sedikit diatas ongkos produksi, bahkan sebenarnya sungguh aneh, karena subsidi negara justru yang menikmatinya adalah negara asal pengimpor yang tentu saja banyak mengambil untung. Belum lagi praktek koruptif yang dilakukan ketika membeli beras dan ketika mendrop beras kepasaran.
Bahkan sungguh laur biasa, praktek korupsi yang terjadi disekitar impor beras. Misalnya Bulog sebagai perpanjangan tangan negara membeli beras Rp. 5000 perkilogram, biasanya itu hanya tertulis dalam kuitansi, sementara bayarnya cuma Rp. 4500 perkilogram. Korupsinya berarti Rp. 500 perkilogram. Lalu kemudian didrop ke distributor-distributor besar dengan harga subsidi sebesar Rp. 3000. Sementara Bulog sekali lagi mendapatkan komisi dari daroping ini, karena diam-diam juga menerima pembayaran Rp. 200 perkilogram dari distributor.
Sementara pada akhirnya harga beras impor tersebut dijual dipasaran dengan harga berpluktuasi sekitar Rp. 3500 perkilogram. Dengan demikian harga gabah petani lokal pun terpaksa ikut-ikutan anjlok, karena secara normalnya seharusnya terjual Rp. 5000, terpaksa turun menjadi Rp. 3000 sampai Rp. 4000 perkilogram.
Sementara pembelian beras keluar negeri secara langsung juga adalah dari uang rakyat yang secara mekanisme adalah amanah yang dikelola oleh negara. Memang betapa malang nasib mu wahai petani. Dari segala sisi terkena keroyok Sepanjang masa meratapi nasib dan keberpihakan negara juga tak kunjung datang.***
Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum Unand dan Dosen STIH Padang
Selasa, 18 Maret 2008
kehancuran abasiyah
Terasfakta, memulung komentar di mailis wanita-muslimah
Aug 29, '07 12:15 PMfor everyone
"Bimo Ario Tejo"
Entah kenapa, banyak orang yang berpikir Khilafah adalah sesuatu yangbaru.Padahal Khilafah pernah ada selama 13 abad dan akhirnya gagal. Runtuh.Tidak kuat menahan terjangan gelombang perjalanan zaman.Fakta bahwa Khilafah pernah eksis selama 1300 tahun tidak bisadijadikan argumen bahwa sistem tersebut baik dan cocok untukditerapkan kembali di era nanoteknologi saat ini.Peradaban Mesir Kuno pernah eksis selama 3000 tahun (!) dan membawakesejahteraan paripurna saat itu. Apakah lantas ini bisa dijadikanargumen untuk mengembalikan peradaban Mesir Kuno di era internet ini?Peradaban Romawi Kuno pun pernah eksis kurang lebih sama sepertiKhilafah (1200 tahun). Tidak ada yang membantah bahwa peradaban RomawiKuno adalah salah satu peradaban emas yang pernah muncul di muka bumi.Tapi apakah dengan begitu kita bisa mengembalikan peradaban RomawiKuno saat ini?Khilafah, sebagaimana komunisme, sudah menemui kegagalan dankeruntuhannya. Saat ini orang tertawa geli kalau ada yang berpikir maumenghidupkan kembali hantu komunisme yang terbukti gagal itu, kenapakita tidak tertawa geli ketika ada orang yang mau membangkitkan sistemKhilafah dari kuburan sejarah?Sekali gagal tetap gagal. Apapun alasannya.salam,bimo
--------------------------
Sang Matahari
Ada baiknya kita objektif menelaah sejarah, apa yang menyebabkan runtuhnyakhilafah. Keruntuhan khilafah salah satunya adalah umat Islam terlena dengankenikmatan dunia dan mulai melalaikan pelaksanaan syariat Islam yang menjadipilar sendi-sendi kehidupan.Pendapat objektif misalnya pendapat dari sejarawahan Will Durant:Pendapat Will Durant (The Story of Civilization) ttg KhilafahWill Durant, The Story of Civilization, vol. XIII, p 151:"Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luarbiasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu jugatelah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya danmemberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas,dimana fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zamanmereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas,hingga berbagai ilmu, sastera, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa,yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannyaselama lima abad"Orang-orang Non-muslim, seiring dengan perjalanan waktu telah menggunakanbahasa Arab sebagai bahasa mereka, padahal mereka bukan bangsa Arab, puncaknyadengan ketundukkan mereka kepada syari'at al-Quran dan memeluk Islam. Padahal,Belanda tidak mampu lagi mempertahankan tonggak kekuasaannya setelah berhasilselama seribu tahun. Begitu juga pasukan Romawi terpaksa meninggalkan tanah airpemberian Tuhan dan tidak dapat lagi mempertahankannya, termasuk dinegeri-negeri tempat munculnya sekte Kristen di luar sekte rasmi negaraByzantium.Di seluruh daerah tersebut telah tersebar luas akidah serta tatacara ibadahagama Islam. Penduduk daerah itu telah beriman kepada agama baru dan merekasemua ikhlas menerimanya. Mereka berpegang teguh kepada akidahnya dengan ikhlasdan serius, hingga dalam waktu singkat mereka telah melupakan Tuhan mereka yanglama.Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentangmulai dari China, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesirbahkan sampai Maroko dan Spanyol. Islam pun telah menguasai cita-cita mereka,mendominasi akhlaknya, membentuk kehidupan¬nya dan membangkitkan harapan ditengah-tengah mereka, yang meringankan masalah maupun duka mereka. Islam telahmewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka, sehingga jumlah orang yangmemeluknya dan ber¬pegang teguh kepadanya pada saat ini (1926) sekitar 350 jutajiwa. Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hati¬nya walaupun adaperbedaan pendapat dan latar belakang politik di antara mereka."Keruntuhan khilafah menunjukkan, sistem ini sistem manusiawi, tergantung pelaksananya. syariat Islam sempurna, yang tak sempurna manusianya sebagaipelaksananya, kita juga tak menafikkan pada masa khilafaur rasyidin, Umar abdulaziz, Harun Al Rasyid, Muhammad Al Fatih dan Solahudin Ayyubi.Bertahannya khilafah selama 13 abad, hal ini menunjukkan kehebatan sistem ini.Dibanding sistem komunisme yang hanya bertahan sekitar 80 tahun-an, sistemparlemen demokrasi pernahkah berhasil atau ada contoh negara yang ideal?Jawabnya tidak ada.Saya pun bertanya, diantara seluruh peradaban yang ada, adakah yang menandingisistem khilafah yang berbasiskan syariat Islam yang berasal dari Penciptamanusia, Allah SWT ini?Sistem yang bukan hanya satu kelompok saja, satu bangsa saja, atau satu ras,satu negeri saja yang bisa menikmati kejayaannya, namun seluruh umat manusiapada umumnya. Kejayaan saat seburuk-buruknya penyimpangan-penyimpangan yangdilakukan khalifah dalam pelaksanaan syariat Islam di khilafah, maka itu masihbelum bisa ditandingi oleh peradaban mana pun. wallahu'alambishawab.Ketika Pa BImo mengatakan gagal, maka saya yakin, sementara ini pun Anda takakan pernah terbayang khilafah akan berpeluang untuk berdiri. Itu pikiran Andadan bukan keyakinan orang yang meyakininya dan memperjuangkannyasetahap-setahap, pelan dan pasti.
----------------------------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
Nurlife,Saya tidak tertarik dengan kisah2 kegemilangan khilafah. Setiap zamanpasti ada masa2 kegemilangan dan masa2 keterpurukan. Bahkan era OrdeBaru pun ada saat2 kegemilangan juga, misalnya swasembada pangan :-)Khalifah ada yang shaleh, bertakwa, wara'; dilain pihak ada jugakhalifah yang brengsek, tukang minum dan main perempuan.Saya lebih tertarik dengan sebab-sebab kenapa khilafah bisa hancurlebur. Sebelum hancur total di tahun 1924, khilafah juga pernahberganti-ganti dari era Umayyah, Abbasiyyah, Utsmaniyyah, dankhilafah2 kecil lain yang memerdekakan diri dari khilafah2 gede itu.Tahun 1924 cuma gong kehancurannya saja.Anda bilang salah satu sebabnya adalah umat Islam yang mulaimelalaikan pelaksanaan syariat Islam yang menjadi pilar sendi-sendikehidupan. Nah, apa sih yang terjadi saat itu kok umat Islam sampemelupakan pelaksanaan syariat Islam? Hipotesa saya:1. Apakah karena saat itu umat Islam mulai sadar bahwa khilafah adalahsistem yang zalim? ---> as a result, banyak muncul pemberontakan yangmelemahkan khilafah.2. Apakah karena saat itu umat Islam mulai sadar bahwa syariat Islamtidak bisa lagi dipakai menghadapi arus modernisasi ---> as a result,munculnya gerakan Nizam-i-Jedid di era Utsmaniyyah.Kalo saya nih: kalo saya udah bosen sama baju lama, pasti saya caribaju yang baru. Baju lama masuk tong sampah. Mungkin ilustrasi inibisa dipake untuk menerangkan kenapa umat Islam sendiri yangmeruntuhkan khilafah saat itu.salam,bimo-------------------------------------------
Dan"
Saya setuju sekali dg pendapat Bung Bimo karena memang saya sendiribersikap demikian. Khilafah adalah suatu kenyataan sejarah dan telahmenjadi sejarah. Tidak perlu kita meratapi sejarah tetapi belajarlahdari sejarah. Mari kita lihat dimana kelemahan2 dalam sistem khilafahitu sehingga harus menghadapi kehancuran.Tidak ada sistem yg hancur kalau tidak lemah dari dalam. Saya selalumengambil contoh Jepang. Mana ada negara yg kalah dibom atom? Tapiapakah bangsa Jepang hancur akibat hancurnya fisik? Ternyata tidak.Tapi ada juga yg hancur sistemnya tanpa kehancuran fisik, yaitu contohORBA. Lha orang2nya aja masih pada hidup dan aman2 aja.Sistem khilafah bagi pendapat saya akan membawa diskriminasistruktural dan oleh karenanya tidak akan dapat bertahan lama. Sistemkhilafah ialah imperialisme Islam. Imperialisme sudah tidak ada tempatlagi dalam dunia modern.Kehancuran imperialisme Islam itu ialah oleh imperialismekapitalitisnya Barat. Imperialisme/kolonialisme Barat ini sendirijuga sudah gagal dan telah berakhir pada PD II.---------------------------------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
Yang menjadi masalah adalah ketika Nabi saw sebagai kepala negarasudah mengambil keputusan, apakah hal tersebut bisa dibantah? Tentutidak. Untuk mengambil keputusan tentu saja Nabi saw bisa memintapendapat siapa saja, seperti yang terjadi saat perang Badar.Nabi saw adalah kepala negara, sekaligus hakim tertinggi, sekaliguslembaga pembuat hukum. Dialah eksekutif, legislatif, dan yudikatifsekaligus. Apakah sistem pemerintahan yang menumpuk wewenang di satutangan seperti itu cocok diterapkan di era modern?Jawabannya tentu tidak!salam,bimo-----------------------------------------
lasykar5
Ada contohnya ga mas Tejo, kalo membantah nabi itu kekafiran? Maksudnya,bukan hipotesa atau teori dalam konteks pemerintahan, tapi yang pernahterjadi. Kan anda tegas menyatakan pentingnya belajar dari sejarah.Kalo saat ketika usul Nabi dalam perang khandaq itu dibantah oleh Salman,dan akhirnya malah bantahan Salman yang diterima sendiri oleh Nabi itubagaimana?salam,satriyo-----------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
QS 4:65 : "Sungguh, mereka tidak akan disebut beriman kecuali bilamereka sudi meminta peradilan darimu (Muhammad) dalam halpersengketaan di antara mereka, lalu mereka tidak merasa berat hatidengan apa yang engkau putuskan, dan mereka menerimanya dengan penuhrasa ketundukan."Kalau prinsip di atas dipakai dalam urusan bernegara, kacau jadinya.Dalam beberapa perkara, Nabi saw meminta pendapat dari para shahabat.Tetapi ketika putusan sudah diambil, membantah keputusan tersebutmembawa konsekuensi kekafiran.Bedanya dengan demokrasi modern, rakyat masih bisa menggugat keputusanpemerintah melalui pengadilan. Sistem khilafah sebenarnya pernahmencoba mengadopsi sistem "madlama" (semacam peradilan tata usahanegara), tetapi khalifah sendiri steril dari jangkauan mahkamah.Saya kira, absennya sistem peradilan yang punya wewenang meng-impeachkhalifah menjadi salah satu sebab maraknya pemberontakan di erakhilafah, dus berkontribusi mempercepat keruntuhan sistem tersebut.salam,bimo-------------------------------------------
"total_sacrifice" wrote:>> Kekhalifahan dgn imperialisme beda dong. kekhalifahan di Jaman Nabi> Saw lama-lama surut karena Nabi Saw memperkenalkan suatu sistem yg> terlalu modern sedangkan masyarakatnya masih primitif. Nabi> memperkenalkan bahwa Pemimpin dipilih karena Prestasinya bukan atas> dasar keturunan, dan itu runtuh setelah khulafa-ur Rosidin.>> Setelah jaman Rasulullah saw dan para sahabat kemudian memang banyak> terjadi penyimpangan.. misalnya kebenaran hanya didasarkan atas> kelompok, sehingga muncul Bani Umayyah, Abasiyah, dll.. itu yg> menyebabkan kehancuran.>> Nabi saw sendiri berharap sistem yg dia bangun diperbaiki oleh> penerusnya, tapi malahan tidak dapat dipertahankan karena terlalu> canggih itu tadi.>----------------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
Kalaulah betul bahwa Nabi saw pernah memperkenalkan suatu "sistempemerintahan", amat wajar jika sistem tersebut tidak bisa bertahanpasca wafatnya Nabi.Apa sebabnya?Karena Nabi saw merangkap jabatan sebagai Nabi sekaligus sebagaikepala negara.Sebagai Nabi, beliau tidak bisa dibantah. Membantah Nabiberkonsekuensi kekafiran. Nah, apa jadinya jika seorang kepala negaratidak bisa dibantah?Nabi memperkenalkan sistem pemerintahan absolut. Sistem inilah yangkemudian diadopsi oleh para khalifah sepeninggal beliau. Baru dizaman2 akhir khilafah Islam muncul lembaga mahkamah madhalim yangbertugas mengadili persengketaan antara rakyat dan penguasa. Tapilembaga ini cuma jadi macan kertas karena hakim2nya diangkat olehkhalifah.Apakah sistem pemerintahan absolut masih cocok diterapkan saat ini?Jawabannya jelas: tidak! Saya percaya pemisahan kekuasaan adalah caraterbaik untuk mencegah kesewenang-wenangan penguasa. Dan sayangnya,sistem khilafah menumpuk semua kekuasaan di tangan khalifah.salam,bimo----------------------------------------------
Sang Matahari
penting belajar sejarah untuk menggambarkan kejadian masa lalu dan fakta yanglalu, namun sejarah tidak bisa dijadikan sumber hukum kecuali Sirah Nabawiyah.Sebab, sejarah sering tercampur persepsi dan pandangan pribadi sang penulis.Tentu saja Sirah Nabawiyah ini bukan sembarangan ditulis orang, namun orang yangmenuliskannya adalah dengan cara metode perawiyan layaknya penulisan hadis.Sirah Nabawiyah yang demikian ditulis salah satunya Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam.Begitu pula proses pendirian negara Islam di Madinah oleh Rasulullah, dilakukantanpa kekerasan.Kita perlu memilah hal-hal yang sifatnya adalah sesuatu yang bersifat hukum(tsaqofah dan fikrah/pemikiran) dengan urusan keduniawiyan seperti strategiperang khandak.Rasulullah juga bersabda ketika orang bertanya tentang penyerbukan kurma,"kalian lebih tahu urusan kalian." Perkataan beliau ini ditujukan tidak untukberkaitan urusan tentang pemikiran islam atau hukum Islam namun lebih padaurusan berkaitan tentang bidang keduniawian yang praktis yang lebih bersifatkebendaan sebagai sarana kehidupan.Seperti pemakaian handphone, mobil, pesawat, alat-alat, kebijakan lalu lintas,hal-hal yang bersifat praktis begini tak perlu pemakaiannya memakai dasar hadisdari rasul. Sebab ada kaidah ushul fiqh hukum asal benda," al aslu fil asyya'ial ibahatu malam yarid dalilutahrim" Hukum asal sesgala sesuatu benda adalahboleh kecuali kalau ada dalil yang mengharamkan. Jadi segala sesuatu di bumi iniboleh dimanfaatkan kecuali ada dalil yang mengharamkan.Adapun hukum terkait dengan perbuatan termasuk didalamnya adalah sistempemerintahan Islam yang nanti disana lahir kebijakan yang akan dilaksanakan(perbuatan) maka terkait dengan kaidah ushul fiqh hukum perbuatan," Al aslu filaf'ali taqayyadu bil hukmi syari'"asal dari perbuatana adalah terikat dengan hukum syara yakni fardu (wajib),sunah, mubah, haram atau makruh.Kalau Rasulullah telah mencontohkan dalam kehidupan bernegara, menerapkansyariat Islam secara totalitas dan tidak ada pilah-pilih, maka kita wajibmenteladaninya. Beliau pulalah yang menggunakan asas dan syariat Islam ketikamengatur urusan non muslim yaitu hubungan pertetanggaan baik dengan kaum Yahudi.Sayangnya, Orang Yahudi mengkhianati perjanjian damai, sehingga Rasulullahterpaksa menjatuhkan sangsi bagi mereka. Kita..apakah telah berusaha mencontohRasulullah dalam hal demikian khususnya dalam tatanan negara?-----------------------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
(note: saya mengasumsikan Nurlife sedang nyantri sama HT, dilihat darikalimat2nya)Pendapat anda menarik: "namun sejarah tidak bisa dijadikan sumberhukum kecuali Sirah Nabawiyah" (dicopy-paste dari posting anda).Nah, menilik struktur pemerintahan khilafah ala HT, disana ada muawwintanfidz, muawwin tadwidl, qadli qudlat, qadli madhalim, amirul jihad,masshalihud dawlah, dll. Semua ini tidak ada di masa Nabi. Muawwintanfidz dan tafwidl misalnya, baru ada di era Abbasiyyah. Lembagamadlama baru ada di era Ustmaniyyah (wewenang madlama dipegang olehGrand Vizier). Masshalihud dawlah baru ada di era Umayyah.Kalo konsisten cuma mengambil sirah Nabawi, struktur khilafah harusnyacuma ada 2 orang: khalifah dan wali. Struktur khilafah yangdiperkenalkan HT tidak dikenal dalam sirah Nabawi. Kalo gitu HTmengambil sejarah sebagai sumber hukum dalam penyusunan strukturpemerintahan dong?Kembali ke tajuk perbincangan ini, kenapa khilafah sampai hancurlebur? Pernah nggak HT membahas secara jujur kok khilafah sampedihancurkan oleh kaum muslimin sendiri?salam,bimo----------------------------------------------------------------------
Sang Matahari
Seorang anggota HT atau bukan, tidak akan pernah berhenti belajar dan nyantripada siapapun. ^_^ Tiada manusia yang sempurna didunia ini, kita hanya berusahasemakain memperbaiki diri. Semua itu berproses. kita juga sering khilaf (lupa).Selain Wali, Rasullah juga mengangkat Amirul jihad yakni berganti sesuaikebutuhan jihad, ada qadhi qisbah yang dilakukan Umar. Jumlah warga negara yangterbatas dan luas wilayah terbatas sangat memungkinkan para sahabat merangkapjabatan. Dua struktur qadhi (qadhli qudrat dan mazalim) saat itu langsungdijabat Rasulullah, berbeda masa setelah khalifah setelahnya. Sedangkan muawindipegang juga oleh Umar dan Abu Bakar lebih rincinya ditelaah di buku Ad Daulah(negara Islam) karya Syekh Taqiyuddin yang disana terjabar rinci bagaimanaRasulullah memilih sahabat-sahabatnya sesuai dengan posisi struktur yang ada.^_^ Struktur itu diperoleh dari penelurusan Sirah Nabawiyah diringkaskan di bukutersebut.--------------------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
Nurlife,1. HT mengklaim bahwa posisi muawwin/wazir (tanfidz dan tafwidl) sudahada sejak zaman Nabi. Klaim ini lemah. Ibn Khaldun dalam kitab"Muqaddimah" bab 3 pasal "Maraatib al-Mulk wa al-Sulthan wa al-qabiha"jelas2 menyebut lembaga wazirat baru muncul di era Abbasiyyah.2. Anda mengklaim bahwa Nabi merangkap jabatan qadli qudlat danmadhalim sekaligus. Wewenang qadli madhalim adalah mengadili penguasa(termasuk kepala negara). Jadi lucu kalo ternyata Nabi saw harusmengadili dirinya sendiri sebagai kepala negara. Jeruk kok makan jeruk.Perangkapan wewenang kepala negara (eksekutif) dan hakim (yudikatif)sangat janggal jika diterapkan di era internet saat ini. Mungkin cocokuntuk diterapkan di kampung2 atau suku2 terpencil, tapi tidak untuksebuah negara modern.Saya sudah lama baca buku ad-Daulah karangan Nabhani itu. Setelahdikonfrontir dengan sumber2 sejarah lain, kelihatannya Nabhani sengajamenciptakan kesan seolah-olah Nabi punya struktur pemerintahan laiknyanegara modern. Padahal cuma ada 2 aparat negara saat itu: kepalanegara dan wali. Istilah2 seperti wazir, qadli hisbah, qadli qudlat,qadli madhalim, mashalihud dawlah, dll itu juga belum muncul di zamanNabi.Struktur pemerintahan khilafah yang diadopsi HT jelas bersumber darisejarah khilafah. Hal ini menyalahi prinsip HT sendiri yang tidak maumengambil sejarah sebagai sumber hukum.Untuk informasi anda, struktur pemerintahan khilafah selalu berkembangdari waktu ke waktu. Khilafah Umayyah misalnya, menciptakan strukturbaru berupa jabatan "ashraf" yang berada di bawah Wali. Jugapembentukan departemen2 teknis yang dinamai "diwan", baru muncul diera Muawiyyah. Dinasti Abbasiyyah menciptakan posisi muawwin (wakilkhalifah) dan penisbatan gelar "Sultan/Amir al-Umaraa" untuk paragubernur/wali. Di era Utsmaniyyah pula muncul jabatan penasihatspiritual khalifah yang dinamakan "Sheyhul Islam", dimana wewenangnyatermasuk memecat khalifah. Ini semua terekam dengan baik dalam catatansejarah. HT tidak bisa membohongi saya :-)salam,bimo---------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
Omong-omong, buku ad-Dawlah tersebut sudah ditarik, diganti dengankitab mutabanat (rujukan) baru. Dan dalam kitab baru itu, strukturpemerintahan khilafah digendutkan menjadi 13 struktur, yang sebelumnyacuma ada 8. Jauh lebih gendut dibanding struktur pemerintahan Nabi.Katanya mau ikut sirah Nabawiyah, kok nyatanya mengarang2 sendiri...:-)Jangan kaget ya nanti kalo ternyata banyak hal2 dalam HT yang berubah.Bukan cuma kitab, tapi hukum2 syara juga. Misalnya siapa yang berhakmengangkat qadli madhalim. Di kitab HT yang lama disebut khalifah yangpunya hak. Tapi ketika beberapa tahun lalu saya berbincang2 denganAbdurrahman al-Baghdadi (eks-amir HT Asia Tenggara), ada pemikiranuntuk mengalihkan wewenang pengangkatan qadli madhalim ke tanganMajelis Syura. Alasannya supaya lebih bermaslahat. Ternyata HTmengambil maslahat sebagai sumber hukum juga :-)Anyway, balik lagi ke topik posting kita. Coba adinda Nurlife uraikandisini kenapa sih khilafah kok sampe diruntuhkan oleh kaum musliminsendiri? Kenapa kok khilafah yang jaya itu sampe diinjak-injak olehorang Islam sendiri. Silakan dibahas. Nggak semua anggota jamaah milispernah baca kitab ad-Dawlah lho :-)salam,bimo----------------------------------------
Sang Matahari
He he he, jika Anda merasa dibohongi itu terserah Anda, menolak pun juga takapa. Tak setuju HT itu juga terserah, yang terpenting Anda ikut berjuang dantidak berdiam diri untuk menegakkan syariah dan khilafah. Menjelaskan buku yangtebalnya 350 halaman di milis ini lumayan juga. jadi lebih enak menyarankanmembacanya ^_^ biar puas, baru diskusi.Struktur pilar pokok khilafah sebenarnya hanya 7, bisa dikembangkan sesuaikebutuhan dan luasnya wilayah. Kitab terbaru menyempurnakannya ^_^. Struktur ituadalah tawaran pada khalifah yang ketika sudah berdiri khilafah.BUkankah itu menunjukkan kesungguhan HT, belum berdiri pun sudah dirancangkonsepnya.Anda sendiri punyakah konsep untuk solusi dari berbagai persoalan manusia danmungkin konsep khilafah sendiri?muawin sama dengan wazir (pembantu) .Nabi SAW telah melantik pembantu untukmembantu baginda dalam hal ihwal pemerintahan. Pada zaman Nabi, mereka inidikenali sebagi wazir. Rasulullah SAW telah meminta pandangan mereka danmenyerahkan hal ehwal pemerintahan, mahkmah, peperangan dan urusan umum yanglain kepada mereka. Dari Abi Said al-Khudri berkata, Rasulullah saw. bersabda:-- "Adapun dua orang wazirku dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan 'Umar."[An-Nasa'i, Sunan, hadith. no. 4133]Qadhi qudlat dan Qadhi mazalim awalnya dipegang Rasulullah, manusia sempurna,luput dari kesalahan. Adakah umat Islam yang ingin menurunkan Rasullah sebagaipemimpin negara dan menuntut kezaliman yang dilakukan Rasulullah? Setelahkondisi stabil Rasulullah menyerahkan pada dua orang sahabat, afwan ya namanyalupa ada di kitab Ad Daulah. Begitu banyak nama di sana, saya tak hapal satupersatu. Insya Allah saya tuliskan lagi esok.Saya sedang minta e-book Ad daulah ke teman jika ada. Mungkin kalau versienglish ada kali ya. ^_^, kalau Indonesia wallahu'alambishawab sedangdiusahakan.Qadhi mazalim dimasukkan ke majelis syuro? itu rasanya tidak mungkin. KarenaQadhi mazalim haruslah seorang hakim muslim, sedangkan Majelis syuro bolehanggotanya non muslim. Tapi terserah kalau pendapatnya Ustadz Al Baghdadi itupendapat beliau sendiri.------------------------------------
lasykar5
Mas Tejo dapat referensi dari mana bahwa khilafah (Turki/Utsmani) itu "sampediruntuhkan oleh kaum musliminsendiri? ... khilafah yang jaya itu sampe diinjak-injak oleh orang Islamsendiri. ..." ?Menarik juga pendapat mas Tejo karena yang saya sering baca adalah versibahwa justru konspirasi yahudi dan pihak non-muslim eropah yang membuathancurnya khilafah di abad 20 itu. Jika memang yang mas maksud muslim ituadalah juga orang macam Mustafa Kamal, muslim keturunan yahudi yangmensekulerkan dan meng-kemalisasi Turki (=mengeropahkan dan sekaligusmen-dearab-kan) bukan muslim 'awam' yang adalah masyarakat Turki, saya bisamaklumi.Jadi saya membedakan antara muslim Turki yang tidak punya masalah dengankhilafah, dan muslim Turki semacam Mustafa Kamal yang punya sangat banyakmasalah dengan khilafah.Mohon 'pencerahannya' mas ...salam,satriyo--------------------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
Sebenarnya HT pernah menulis buku "Bagaimana Khilafah Dihancurkan",ditulis Abdul Qadim Zallum, amir ke-2 HT. Dalam buku itu dijelaskanbeberapa faktor mengapa khilafah sampai lenyap dari muka bumi.Sama seperti yang anda pahami, Zallum juga menuding konspirasi Yahudidan Kristen Eropa sebagai sebab hancurnya khilafah. To be specific,hasutan dari orang kafir-lah yang menyebabkan kaum musliminmemberontak terhadap khilafah.Kalau teori anda dan Zallum itu betul, berarti orang Islam itu bodoh.Sebegitu mudahnya dihasut sampai mau meruntuhkan negara sendiri. Sayatidak percaya orang Islam sebodoh itu sampai mau meruntuhkan negaranyasendiri. Pasti ada sebab lain, bukan cuma soal hasut-menghasut.Lagipun, kalau memang khilafah betul2 mensejahterakan umat (sepertiyang dipropagandakan HT), tidak mungkin orang Islam mau meruntuhkankhilafah. Ibaratnya, tidak mungkin istri menyeleweng kecuali kalosuaminya tidak perkasa di ranjang, iya nggak?Ketika satu jari menuding orang lain, keempat jari lain menuding dirisendiri. Filosofi inilah yang saya anut untuk meyakini bahwa hancurnyakhilafah lebih banyak disebabkan oleh kebobrokan internal ketimbangkarena pengaruh eksternal.OK, kembali ke pertanyaan anda: "Mas Tejo dapat referensi dari manabahwa khilafah (Turki/Utsmani) itu sampe diruntuhkan oleh kaummuslimin sendiri?"Jawaban saya:1. Pajak yang mencekik leher.Sebelum era Tanzimat, khilafah Utsmaniyyah menggantungkan pendapatannegara sepenuhnya dari pajak. Untuk menggenjot pendapatan, khilafahmenciptakan beberapa jenis pajak yang tidak pernah dikenal dalam fiqihIslam, misalnya pajak kepala (Resm-i çift untuk yang sudah menikah danResm-i mücerred untuk bujangan). Abu Su'ud Effendi, Sheyhul Islam padapertengahan abad ke-16, menafsirkan pajak kepala sebagai misaha yangdikenal oleh fiqih Islam. Argumentasi tersebut jelas hanya dicari-carikarena çift diadopsi dari pajak kepala di masa Bizantium yang dikenaldengan nama zeugaratikion [Metin Cosgel, Efficiency and Continuity inPublic Finance: The Ottoman System of Taxation, Department ofEconomics Working Paper Series, University of Connecticut (2004)].Tidak peduli muslim atau kafir, siapa sih yang tahan dibebani pajakini-itu?2. Kebobrokan ekonomi.Selama era Sultan Mahmud II (1808-1839) atau sebelum era Tanzimat,nama dan bentuk mata uang khilafah Utsmaniyyah telah berganti 35 kaliuntuk koin emas, 37 kali untuk koin perak, dan nilai tukar kuruşterhadap poundsterling telah merosot dari 23 pada tahun 1814 menjadi104 pada tahun 1839. Untuk menanggulangi hal ini, Reformasi Moneterdiluncurkan pada tahun 1844.Jika ekonomi sudah berantakan, rezim sangat mudah diruntuhkan. Ingatkrisis ekonomi yang berujung pada runtuhnya Orde Baru?3. Pemberontakan.Beberapa yang terkenal misalnya Revolusi Jelali di Anatolia(1519-1620) dan Revolusi Janissary (1622). Walaupun tidak secaralangsung meruntuhkan khilafah, kedua pemberontakan ini memberi pesankeras kepada khilafah Utsmaniyyah bahwa ada ketidakpuasan terhadapcara mereka mengadministrasi negara. Revolusi Jelali misalnya, dipicuoleh tingginya pajak dan kebobrokan moral aparat negara.Yang paling memukul dan menyebabkan hancurnya khilafah adalahserangkaian pemberontakan pada abad 19. Yang luar biasa, bukan cumawilayah dominan Kristen seperti Yunani yang memerdekakan diri, wilayahyang mayoritas Muslim pun ikut melepaskan diri dari khilafah.Bosnia-Herzegovina misalnya, mencoba memberontak dari khilafah padatahun 1831 dipimpin Husein Gradaščević. Alasannya: ketidakpuasan atasreformasi politik dan ekonomi oleh Sultan Mahmud II.Revolusi Arab tahun 1916 juga menunjukkan bahwa kaum muslimin sendirisudah muak dengan khilafah (herannya, kok orang jaman sekarang balikmenggandrungi khilafah). Dalam pidato proklamasi kemerdekaan Arab daripenjajahan "orang Turki", Syarif Hussein bin Ali menyebut merosotnyapamor khilafah menyebabkan rasa malu bagi bangsa Arab.Kalau memang khilafah "oke-oke saja" seperti dipropagandakan HT selamaini, apa mungkin gerakan pemberontakan bermunculan di mana-mana? Apamungkin khilafah terjebak krisis ekonomi? Something fishy, tentu adayang busuk dalam struktur khilafah.Anda menuding-nuding Mustafa Kemal sebagai sumber gara-gara. Tahukahanda bahwa Mustafa Kemal-lah yang menyelamatkan Turki setelah habisdiganyang tentara sekutu (Perancis, Rusia, Inggris) pada Perang DuniaI akibat kesemberonoan Khalifah Mehmed V Reshad mengomando "jihad"terhadap sekutu yang militernya jauh lebih maju?Istanbul, ibukota khilafah, ada di bawah kekuasaan Inggris pascakekalahan di PD I. Mustafa Kemal adalah orang yang memerdekakan Turkidari kekuasaan sekutu. Wajar jika Mustafa muak terhadap khilafah.Alih-alih mempertahankan wilayah Turki, eh malah memberi Istanbulsecara gratis ke Inggris melalui perjanjian Mudros (1918).salam,bimo-----------------------------------------
Sang Matahari
banyak faktor yang menyebabkan khilafah runtuh. dan semua diawali dari faktorinternal. Saya coba mensarikan sedikit.1) Kejumudan berpikir sehingga umat Islam tidak bisa merespon atau menghukumiperkara baru yang muncul karena disibukkan dengan jihad serta lalai dalammendalami agama Islam kembali. Disamping khilafah karena sedang dipuncakkeemasannya menjadi lalai dan lupa diri, sehingga kurang bisa merespon kemajuanbarat yang sedang melakukan renaisan. Tabiat manusia jika sudah sukses, kaya,lupa diri dan malas serta bawaannya berhura-hura.2) Tertutupnya pintu ijtihad sehingga umat Islam melakukan kodifikasi hukumdari barat. Diantarnya tahun 1985-1986, Turki memecah struktur hakim menjadihakim sipil dan agama (sekularisme), mengadopsi sistem parlementer secaraperlahan-lahan dengan diangkatnya perdana menteri. Serta pengangkatan khalifahhanya dilimpahkan pada satu orang syaikhul Islam dan bukan Ahlu halli wal Aqdi.INi salah satu penyimpangan, banyak yang lainnya.3) Selain itu, diabaikannya pelajaran bahasa arab padahal bahasa arab adalahibu dari syariat Islam dan mempelajari Al Quran,. Ijttihad tak bisa dilakukanoleh orang yang tidak paham bahasa arab.4) tafaqquh fiddinnya lemah (mendalami agama, syariat Islam lalai). Hal-halinilah yang kemudian menyebabkan penyimpagang-penyimpangan yang anda sebutkandibawah.5) Selanjutnya tak dipungkiri adanya konspirasi dari asing yakni dimulai padaabad 17-an dengan adanya misionaris di Malta di daerah Syam, mereka digerakkanPerancis dan Inggris yang membuat perpecahan warganegara Islam dan non muslim disana. Padahal non muslim dan muslim di Syam(lebanon) saling bertetangga baik.Walau sering menemukan kegagalan namun mereka lama-lama berhasil dan menanamkanide-ide pemberontakan serta kebencian terhadap khilafah.Upaya ini dilanjutkan dengan pemberian beasiswa bagi warganegara Islam keBarat. Di Barat mereka dibekali ide-ide demokrasi, sekularisme,politik barat,ketika mereka kembali mereka mengajarkannya pada warga khilafah. Mirip diIndonesia, para 'penggede' Islam liberal diberikan beasiswa ke luar negeri diAmerika serikat, Australia dll tentang teologi Islam. Ini ibarat "agenperubah"^_^ yang berusaha mematikan syariat Islam dan menjegalnya habis-habisan.6. Kemudian disusupkannya orang-orang pro Inggris, sekutu, perancis distruktur khilafah termasuk Attaturk dan yang lainnya, sehingga dikisahkan hampir50 persen pejabat khilafah adalah antek Inggris, sekutu dll, jiwa, dan hidupmereka sudah dibeli inggris dkk ^_^. Cobalah kita melihat saat ini, bukankah inisama dengan beberapa pejabat di negeri muslim? yang sami'na wa'athona terhadapmereka ^_^7. Sekutu dll membuat makar dengan berbagai pemberontakan, termasuk isunasionalisme dan kemerdekaan Arab, Turki, Syam, dll sehingga KHilafah disibukkandengan urusan internal dan melemah, dan melupakan perbaikan dirinya.Masing-masing daerah ingin memisahkan diri dari khilafah dan mendirikan negaraatas nama kebangsaan. Dahulu yang menjadi wilayah Usmaniyah kini terpecahmenjadi 57 negeri (negara seperti Arab Saudi, Qatar, Iran, Afghanistan,pakistan, India, Mesir, Libya, Iran, Palestina, Lebanon, Yaman, dll TermasukIndonesia) . Anda tentu paham, kalau terpecah belah mudah sekali dijajah baiksecara fisik atau pemikiran. Dieksploitasi SDM dan SDA-nya. Mirip sapu lidi yangtercerai berai saat ini bukan? Tak ada pelindung dll.8. Intelektual muda Turki (Turki Muda) sudah teracuni ide-ide demokrasi,sekularisme, pluralisme dll dan mereka menginginkan khilafah diruntuhkan dandiganti dengan Republik sekular, hasilnya Anda bisa melihatnya sekarang. Maka,sekarang dibalik, mendirikan khilafah adalah dengan mencerdaskan masyarakat,membentuk opini umum dan kesadaran umat tentang kewajiban penerapan syariatIslam dan khilafah untuk melangsungkan kehidupan Islam serta mengurusi urusanumat di segala aspek kehidupan. ^_^9. Maraknya aliran sufisme yang melenakan, dimana umat Islam lebih sukaberuzlah, menghindari aktivitas umat, membatasi urusan agama sekedar ibadahritual semata, berdzikir saja, menari. Dimana aliran ini merupakan penyimpangandari filsafat dan agama hindu.Bukankah dalam hidup ini, apa pun serangan dari luar itu tidak akan begituberpengaruh asal diri kita dan keyakinan kita kuat.Keruntuhan KHilafah bisa juga dibaca di BUKu Mengapa Umat Islam Mundur, bukuDr Ali Muhammad al-Shalabi Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Usmaniyah penerbit AlKhausar, ini ekternal HTI namun isinya hampir sama ^_^.
Aug 29, '07 12:15 PMfor everyone
"Bimo Ario Tejo"
Entah kenapa, banyak orang yang berpikir Khilafah adalah sesuatu yangbaru.Padahal Khilafah pernah ada selama 13 abad dan akhirnya gagal. Runtuh.Tidak kuat menahan terjangan gelombang perjalanan zaman.Fakta bahwa Khilafah pernah eksis selama 1300 tahun tidak bisadijadikan argumen bahwa sistem tersebut baik dan cocok untukditerapkan kembali di era nanoteknologi saat ini.Peradaban Mesir Kuno pernah eksis selama 3000 tahun (!) dan membawakesejahteraan paripurna saat itu. Apakah lantas ini bisa dijadikanargumen untuk mengembalikan peradaban Mesir Kuno di era internet ini?Peradaban Romawi Kuno pun pernah eksis kurang lebih sama sepertiKhilafah (1200 tahun). Tidak ada yang membantah bahwa peradaban RomawiKuno adalah salah satu peradaban emas yang pernah muncul di muka bumi.Tapi apakah dengan begitu kita bisa mengembalikan peradaban RomawiKuno saat ini?Khilafah, sebagaimana komunisme, sudah menemui kegagalan dankeruntuhannya. Saat ini orang tertawa geli kalau ada yang berpikir maumenghidupkan kembali hantu komunisme yang terbukti gagal itu, kenapakita tidak tertawa geli ketika ada orang yang mau membangkitkan sistemKhilafah dari kuburan sejarah?Sekali gagal tetap gagal. Apapun alasannya.salam,bimo
--------------------------
Sang Matahari
Ada baiknya kita objektif menelaah sejarah, apa yang menyebabkan runtuhnyakhilafah. Keruntuhan khilafah salah satunya adalah umat Islam terlena dengankenikmatan dunia dan mulai melalaikan pelaksanaan syariat Islam yang menjadipilar sendi-sendi kehidupan.Pendapat objektif misalnya pendapat dari sejarawahan Will Durant:Pendapat Will Durant (The Story of Civilization) ttg KhilafahWill Durant, The Story of Civilization, vol. XIII, p 151:"Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luarbiasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu jugatelah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya danmemberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas,dimana fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zamanmereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas,hingga berbagai ilmu, sastera, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa,yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannyaselama lima abad"Orang-orang Non-muslim, seiring dengan perjalanan waktu telah menggunakanbahasa Arab sebagai bahasa mereka, padahal mereka bukan bangsa Arab, puncaknyadengan ketundukkan mereka kepada syari'at al-Quran dan memeluk Islam. Padahal,Belanda tidak mampu lagi mempertahankan tonggak kekuasaannya setelah berhasilselama seribu tahun. Begitu juga pasukan Romawi terpaksa meninggalkan tanah airpemberian Tuhan dan tidak dapat lagi mempertahankannya, termasuk dinegeri-negeri tempat munculnya sekte Kristen di luar sekte rasmi negaraByzantium.Di seluruh daerah tersebut telah tersebar luas akidah serta tatacara ibadahagama Islam. Penduduk daerah itu telah beriman kepada agama baru dan merekasemua ikhlas menerimanya. Mereka berpegang teguh kepada akidahnya dengan ikhlasdan serius, hingga dalam waktu singkat mereka telah melupakan Tuhan mereka yanglama.Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentangmulai dari China, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesirbahkan sampai Maroko dan Spanyol. Islam pun telah menguasai cita-cita mereka,mendominasi akhlaknya, membentuk kehidupan¬nya dan membangkitkan harapan ditengah-tengah mereka, yang meringankan masalah maupun duka mereka. Islam telahmewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka, sehingga jumlah orang yangmemeluknya dan ber¬pegang teguh kepadanya pada saat ini (1926) sekitar 350 jutajiwa. Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hati¬nya walaupun adaperbedaan pendapat dan latar belakang politik di antara mereka."Keruntuhan khilafah menunjukkan, sistem ini sistem manusiawi, tergantung pelaksananya. syariat Islam sempurna, yang tak sempurna manusianya sebagaipelaksananya, kita juga tak menafikkan pada masa khilafaur rasyidin, Umar abdulaziz, Harun Al Rasyid, Muhammad Al Fatih dan Solahudin Ayyubi.Bertahannya khilafah selama 13 abad, hal ini menunjukkan kehebatan sistem ini.Dibanding sistem komunisme yang hanya bertahan sekitar 80 tahun-an, sistemparlemen demokrasi pernahkah berhasil atau ada contoh negara yang ideal?Jawabnya tidak ada.Saya pun bertanya, diantara seluruh peradaban yang ada, adakah yang menandingisistem khilafah yang berbasiskan syariat Islam yang berasal dari Penciptamanusia, Allah SWT ini?Sistem yang bukan hanya satu kelompok saja, satu bangsa saja, atau satu ras,satu negeri saja yang bisa menikmati kejayaannya, namun seluruh umat manusiapada umumnya. Kejayaan saat seburuk-buruknya penyimpangan-penyimpangan yangdilakukan khalifah dalam pelaksanaan syariat Islam di khilafah, maka itu masihbelum bisa ditandingi oleh peradaban mana pun. wallahu'alambishawab.Ketika Pa BImo mengatakan gagal, maka saya yakin, sementara ini pun Anda takakan pernah terbayang khilafah akan berpeluang untuk berdiri. Itu pikiran Andadan bukan keyakinan orang yang meyakininya dan memperjuangkannyasetahap-setahap, pelan dan pasti.
----------------------------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
Nurlife,Saya tidak tertarik dengan kisah2 kegemilangan khilafah. Setiap zamanpasti ada masa2 kegemilangan dan masa2 keterpurukan. Bahkan era OrdeBaru pun ada saat2 kegemilangan juga, misalnya swasembada pangan :-)Khalifah ada yang shaleh, bertakwa, wara'; dilain pihak ada jugakhalifah yang brengsek, tukang minum dan main perempuan.Saya lebih tertarik dengan sebab-sebab kenapa khilafah bisa hancurlebur. Sebelum hancur total di tahun 1924, khilafah juga pernahberganti-ganti dari era Umayyah, Abbasiyyah, Utsmaniyyah, dankhilafah2 kecil lain yang memerdekakan diri dari khilafah2 gede itu.Tahun 1924 cuma gong kehancurannya saja.Anda bilang salah satu sebabnya adalah umat Islam yang mulaimelalaikan pelaksanaan syariat Islam yang menjadi pilar sendi-sendikehidupan. Nah, apa sih yang terjadi saat itu kok umat Islam sampemelupakan pelaksanaan syariat Islam? Hipotesa saya:1. Apakah karena saat itu umat Islam mulai sadar bahwa khilafah adalahsistem yang zalim? ---> as a result, banyak muncul pemberontakan yangmelemahkan khilafah.2. Apakah karena saat itu umat Islam mulai sadar bahwa syariat Islamtidak bisa lagi dipakai menghadapi arus modernisasi ---> as a result,munculnya gerakan Nizam-i-Jedid di era Utsmaniyyah.Kalo saya nih: kalo saya udah bosen sama baju lama, pasti saya caribaju yang baru. Baju lama masuk tong sampah. Mungkin ilustrasi inibisa dipake untuk menerangkan kenapa umat Islam sendiri yangmeruntuhkan khilafah saat itu.salam,bimo-------------------------------------------
Dan"
Saya setuju sekali dg pendapat Bung Bimo karena memang saya sendiribersikap demikian. Khilafah adalah suatu kenyataan sejarah dan telahmenjadi sejarah. Tidak perlu kita meratapi sejarah tetapi belajarlahdari sejarah. Mari kita lihat dimana kelemahan2 dalam sistem khilafahitu sehingga harus menghadapi kehancuran.Tidak ada sistem yg hancur kalau tidak lemah dari dalam. Saya selalumengambil contoh Jepang. Mana ada negara yg kalah dibom atom? Tapiapakah bangsa Jepang hancur akibat hancurnya fisik? Ternyata tidak.Tapi ada juga yg hancur sistemnya tanpa kehancuran fisik, yaitu contohORBA. Lha orang2nya aja masih pada hidup dan aman2 aja.Sistem khilafah bagi pendapat saya akan membawa diskriminasistruktural dan oleh karenanya tidak akan dapat bertahan lama. Sistemkhilafah ialah imperialisme Islam. Imperialisme sudah tidak ada tempatlagi dalam dunia modern.Kehancuran imperialisme Islam itu ialah oleh imperialismekapitalitisnya Barat. Imperialisme/kolonialisme Barat ini sendirijuga sudah gagal dan telah berakhir pada PD II.---------------------------------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
Yang menjadi masalah adalah ketika Nabi saw sebagai kepala negarasudah mengambil keputusan, apakah hal tersebut bisa dibantah? Tentutidak. Untuk mengambil keputusan tentu saja Nabi saw bisa memintapendapat siapa saja, seperti yang terjadi saat perang Badar.Nabi saw adalah kepala negara, sekaligus hakim tertinggi, sekaliguslembaga pembuat hukum. Dialah eksekutif, legislatif, dan yudikatifsekaligus. Apakah sistem pemerintahan yang menumpuk wewenang di satutangan seperti itu cocok diterapkan di era modern?Jawabannya tentu tidak!salam,bimo-----------------------------------------
lasykar5
Ada contohnya ga mas Tejo, kalo membantah nabi itu kekafiran? Maksudnya,bukan hipotesa atau teori dalam konteks pemerintahan, tapi yang pernahterjadi. Kan anda tegas menyatakan pentingnya belajar dari sejarah.Kalo saat ketika usul Nabi dalam perang khandaq itu dibantah oleh Salman,dan akhirnya malah bantahan Salman yang diterima sendiri oleh Nabi itubagaimana?salam,satriyo-----------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
QS 4:65 : "Sungguh, mereka tidak akan disebut beriman kecuali bilamereka sudi meminta peradilan darimu (Muhammad) dalam halpersengketaan di antara mereka, lalu mereka tidak merasa berat hatidengan apa yang engkau putuskan, dan mereka menerimanya dengan penuhrasa ketundukan."Kalau prinsip di atas dipakai dalam urusan bernegara, kacau jadinya.Dalam beberapa perkara, Nabi saw meminta pendapat dari para shahabat.Tetapi ketika putusan sudah diambil, membantah keputusan tersebutmembawa konsekuensi kekafiran.Bedanya dengan demokrasi modern, rakyat masih bisa menggugat keputusanpemerintah melalui pengadilan. Sistem khilafah sebenarnya pernahmencoba mengadopsi sistem "madlama" (semacam peradilan tata usahanegara), tetapi khalifah sendiri steril dari jangkauan mahkamah.Saya kira, absennya sistem peradilan yang punya wewenang meng-impeachkhalifah menjadi salah satu sebab maraknya pemberontakan di erakhilafah, dus berkontribusi mempercepat keruntuhan sistem tersebut.salam,bimo-------------------------------------------
"total_sacrifice"
"Bimo Ario Tejo"
Kalaulah betul bahwa Nabi saw pernah memperkenalkan suatu "sistempemerintahan", amat wajar jika sistem tersebut tidak bisa bertahanpasca wafatnya Nabi.Apa sebabnya?Karena Nabi saw merangkap jabatan sebagai Nabi sekaligus sebagaikepala negara.Sebagai Nabi, beliau tidak bisa dibantah. Membantah Nabiberkonsekuensi kekafiran. Nah, apa jadinya jika seorang kepala negaratidak bisa dibantah?Nabi memperkenalkan sistem pemerintahan absolut. Sistem inilah yangkemudian diadopsi oleh para khalifah sepeninggal beliau. Baru dizaman2 akhir khilafah Islam muncul lembaga mahkamah madhalim yangbertugas mengadili persengketaan antara rakyat dan penguasa. Tapilembaga ini cuma jadi macan kertas karena hakim2nya diangkat olehkhalifah.Apakah sistem pemerintahan absolut masih cocok diterapkan saat ini?Jawabannya jelas: tidak! Saya percaya pemisahan kekuasaan adalah caraterbaik untuk mencegah kesewenang-wenangan penguasa. Dan sayangnya,sistem khilafah menumpuk semua kekuasaan di tangan khalifah.salam,bimo----------------------------------------------
Sang Matahari
penting belajar sejarah untuk menggambarkan kejadian masa lalu dan fakta yanglalu, namun sejarah tidak bisa dijadikan sumber hukum kecuali Sirah Nabawiyah.Sebab, sejarah sering tercampur persepsi dan pandangan pribadi sang penulis.Tentu saja Sirah Nabawiyah ini bukan sembarangan ditulis orang, namun orang yangmenuliskannya adalah dengan cara metode perawiyan layaknya penulisan hadis.Sirah Nabawiyah yang demikian ditulis salah satunya Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam.Begitu pula proses pendirian negara Islam di Madinah oleh Rasulullah, dilakukantanpa kekerasan.Kita perlu memilah hal-hal yang sifatnya adalah sesuatu yang bersifat hukum(tsaqofah dan fikrah/pemikiran) dengan urusan keduniawiyan seperti strategiperang khandak.Rasulullah juga bersabda ketika orang bertanya tentang penyerbukan kurma,"kalian lebih tahu urusan kalian." Perkataan beliau ini ditujukan tidak untukberkaitan urusan tentang pemikiran islam atau hukum Islam namun lebih padaurusan berkaitan tentang bidang keduniawian yang praktis yang lebih bersifatkebendaan sebagai sarana kehidupan.Seperti pemakaian handphone, mobil, pesawat, alat-alat, kebijakan lalu lintas,hal-hal yang bersifat praktis begini tak perlu pemakaiannya memakai dasar hadisdari rasul. Sebab ada kaidah ushul fiqh hukum asal benda," al aslu fil asyya'ial ibahatu malam yarid dalilutahrim" Hukum asal sesgala sesuatu benda adalahboleh kecuali kalau ada dalil yang mengharamkan. Jadi segala sesuatu di bumi iniboleh dimanfaatkan kecuali ada dalil yang mengharamkan.Adapun hukum terkait dengan perbuatan termasuk didalamnya adalah sistempemerintahan Islam yang nanti disana lahir kebijakan yang akan dilaksanakan(perbuatan) maka terkait dengan kaidah ushul fiqh hukum perbuatan," Al aslu filaf'ali taqayyadu bil hukmi syari'"asal dari perbuatana adalah terikat dengan hukum syara yakni fardu (wajib),sunah, mubah, haram atau makruh.Kalau Rasulullah telah mencontohkan dalam kehidupan bernegara, menerapkansyariat Islam secara totalitas dan tidak ada pilah-pilih, maka kita wajibmenteladaninya. Beliau pulalah yang menggunakan asas dan syariat Islam ketikamengatur urusan non muslim yaitu hubungan pertetanggaan baik dengan kaum Yahudi.Sayangnya, Orang Yahudi mengkhianati perjanjian damai, sehingga Rasulullahterpaksa menjatuhkan sangsi bagi mereka. Kita..apakah telah berusaha mencontohRasulullah dalam hal demikian khususnya dalam tatanan negara?-----------------------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
(note: saya mengasumsikan Nurlife sedang nyantri sama HT, dilihat darikalimat2nya)Pendapat anda menarik: "namun sejarah tidak bisa dijadikan sumberhukum kecuali Sirah Nabawiyah" (dicopy-paste dari posting anda).Nah, menilik struktur pemerintahan khilafah ala HT, disana ada muawwintanfidz, muawwin tadwidl, qadli qudlat, qadli madhalim, amirul jihad,masshalihud dawlah, dll. Semua ini tidak ada di masa Nabi. Muawwintanfidz dan tafwidl misalnya, baru ada di era Abbasiyyah. Lembagamadlama baru ada di era Ustmaniyyah (wewenang madlama dipegang olehGrand Vizier). Masshalihud dawlah baru ada di era Umayyah.Kalo konsisten cuma mengambil sirah Nabawi, struktur khilafah harusnyacuma ada 2 orang: khalifah dan wali. Struktur khilafah yangdiperkenalkan HT tidak dikenal dalam sirah Nabawi. Kalo gitu HTmengambil sejarah sebagai sumber hukum dalam penyusunan strukturpemerintahan dong?Kembali ke tajuk perbincangan ini, kenapa khilafah sampai hancurlebur? Pernah nggak HT membahas secara jujur kok khilafah sampedihancurkan oleh kaum muslimin sendiri?salam,bimo----------------------------------------------------------------------
Sang Matahari
Seorang anggota HT atau bukan, tidak akan pernah berhenti belajar dan nyantripada siapapun. ^_^ Tiada manusia yang sempurna didunia ini, kita hanya berusahasemakain memperbaiki diri. Semua itu berproses. kita juga sering khilaf (lupa).Selain Wali, Rasullah juga mengangkat Amirul jihad yakni berganti sesuaikebutuhan jihad, ada qadhi qisbah yang dilakukan Umar. Jumlah warga negara yangterbatas dan luas wilayah terbatas sangat memungkinkan para sahabat merangkapjabatan. Dua struktur qadhi (qadhli qudrat dan mazalim) saat itu langsungdijabat Rasulullah, berbeda masa setelah khalifah setelahnya. Sedangkan muawindipegang juga oleh Umar dan Abu Bakar lebih rincinya ditelaah di buku Ad Daulah(negara Islam) karya Syekh Taqiyuddin yang disana terjabar rinci bagaimanaRasulullah memilih sahabat-sahabatnya sesuai dengan posisi struktur yang ada.^_^ Struktur itu diperoleh dari penelurusan Sirah Nabawiyah diringkaskan di bukutersebut.--------------------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
Nurlife,1. HT mengklaim bahwa posisi muawwin/wazir (tanfidz dan tafwidl) sudahada sejak zaman Nabi. Klaim ini lemah. Ibn Khaldun dalam kitab"Muqaddimah" bab 3 pasal "Maraatib al-Mulk wa al-Sulthan wa al-qabiha"jelas2 menyebut lembaga wazirat baru muncul di era Abbasiyyah.2. Anda mengklaim bahwa Nabi merangkap jabatan qadli qudlat danmadhalim sekaligus. Wewenang qadli madhalim adalah mengadili penguasa(termasuk kepala negara). Jadi lucu kalo ternyata Nabi saw harusmengadili dirinya sendiri sebagai kepala negara. Jeruk kok makan jeruk.Perangkapan wewenang kepala negara (eksekutif) dan hakim (yudikatif)sangat janggal jika diterapkan di era internet saat ini. Mungkin cocokuntuk diterapkan di kampung2 atau suku2 terpencil, tapi tidak untuksebuah negara modern.Saya sudah lama baca buku ad-Daulah karangan Nabhani itu. Setelahdikonfrontir dengan sumber2 sejarah lain, kelihatannya Nabhani sengajamenciptakan kesan seolah-olah Nabi punya struktur pemerintahan laiknyanegara modern. Padahal cuma ada 2 aparat negara saat itu: kepalanegara dan wali. Istilah2 seperti wazir, qadli hisbah, qadli qudlat,qadli madhalim, mashalihud dawlah, dll itu juga belum muncul di zamanNabi.Struktur pemerintahan khilafah yang diadopsi HT jelas bersumber darisejarah khilafah. Hal ini menyalahi prinsip HT sendiri yang tidak maumengambil sejarah sebagai sumber hukum.Untuk informasi anda, struktur pemerintahan khilafah selalu berkembangdari waktu ke waktu. Khilafah Umayyah misalnya, menciptakan strukturbaru berupa jabatan "ashraf" yang berada di bawah Wali. Jugapembentukan departemen2 teknis yang dinamai "diwan", baru muncul diera Muawiyyah. Dinasti Abbasiyyah menciptakan posisi muawwin (wakilkhalifah) dan penisbatan gelar "Sultan/Amir al-Umaraa" untuk paragubernur/wali. Di era Utsmaniyyah pula muncul jabatan penasihatspiritual khalifah yang dinamakan "Sheyhul Islam", dimana wewenangnyatermasuk memecat khalifah. Ini semua terekam dengan baik dalam catatansejarah. HT tidak bisa membohongi saya :-)salam,bimo---------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
Omong-omong, buku ad-Dawlah tersebut sudah ditarik, diganti dengankitab mutabanat (rujukan) baru. Dan dalam kitab baru itu, strukturpemerintahan khilafah digendutkan menjadi 13 struktur, yang sebelumnyacuma ada 8. Jauh lebih gendut dibanding struktur pemerintahan Nabi.Katanya mau ikut sirah Nabawiyah, kok nyatanya mengarang2 sendiri...:-)Jangan kaget ya nanti kalo ternyata banyak hal2 dalam HT yang berubah.Bukan cuma kitab, tapi hukum2 syara juga. Misalnya siapa yang berhakmengangkat qadli madhalim. Di kitab HT yang lama disebut khalifah yangpunya hak. Tapi ketika beberapa tahun lalu saya berbincang2 denganAbdurrahman al-Baghdadi (eks-amir HT Asia Tenggara), ada pemikiranuntuk mengalihkan wewenang pengangkatan qadli madhalim ke tanganMajelis Syura. Alasannya supaya lebih bermaslahat. Ternyata HTmengambil maslahat sebagai sumber hukum juga :-)Anyway, balik lagi ke topik posting kita. Coba adinda Nurlife uraikandisini kenapa sih khilafah kok sampe diruntuhkan oleh kaum musliminsendiri? Kenapa kok khilafah yang jaya itu sampe diinjak-injak olehorang Islam sendiri. Silakan dibahas. Nggak semua anggota jamaah milispernah baca kitab ad-Dawlah lho :-)salam,bimo----------------------------------------
Sang Matahari
He he he, jika Anda merasa dibohongi itu terserah Anda, menolak pun juga takapa. Tak setuju HT itu juga terserah, yang terpenting Anda ikut berjuang dantidak berdiam diri untuk menegakkan syariah dan khilafah. Menjelaskan buku yangtebalnya 350 halaman di milis ini lumayan juga. jadi lebih enak menyarankanmembacanya ^_^ biar puas, baru diskusi.Struktur pilar pokok khilafah sebenarnya hanya 7, bisa dikembangkan sesuaikebutuhan dan luasnya wilayah. Kitab terbaru menyempurnakannya ^_^. Struktur ituadalah tawaran pada khalifah yang ketika sudah berdiri khilafah.BUkankah itu menunjukkan kesungguhan HT, belum berdiri pun sudah dirancangkonsepnya.Anda sendiri punyakah konsep untuk solusi dari berbagai persoalan manusia danmungkin konsep khilafah sendiri?muawin sama dengan wazir (pembantu) .Nabi SAW telah melantik pembantu untukmembantu baginda dalam hal ihwal pemerintahan. Pada zaman Nabi, mereka inidikenali sebagi wazir. Rasulullah SAW telah meminta pandangan mereka danmenyerahkan hal ehwal pemerintahan, mahkmah, peperangan dan urusan umum yanglain kepada mereka. Dari Abi Said al-Khudri berkata, Rasulullah saw. bersabda:-- "Adapun dua orang wazirku dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan 'Umar."[An-Nasa'i, Sunan, hadith. no. 4133]Qadhi qudlat dan Qadhi mazalim awalnya dipegang Rasulullah, manusia sempurna,luput dari kesalahan. Adakah umat Islam yang ingin menurunkan Rasullah sebagaipemimpin negara dan menuntut kezaliman yang dilakukan Rasulullah? Setelahkondisi stabil Rasulullah menyerahkan pada dua orang sahabat, afwan ya namanyalupa ada di kitab Ad Daulah. Begitu banyak nama di sana, saya tak hapal satupersatu. Insya Allah saya tuliskan lagi esok.Saya sedang minta e-book Ad daulah ke teman jika ada. Mungkin kalau versienglish ada kali ya. ^_^, kalau Indonesia wallahu'alambishawab sedangdiusahakan.Qadhi mazalim dimasukkan ke majelis syuro? itu rasanya tidak mungkin. KarenaQadhi mazalim haruslah seorang hakim muslim, sedangkan Majelis syuro bolehanggotanya non muslim. Tapi terserah kalau pendapatnya Ustadz Al Baghdadi itupendapat beliau sendiri.------------------------------------
lasykar5
Mas Tejo dapat referensi dari mana bahwa khilafah (Turki/Utsmani) itu "sampediruntuhkan oleh kaum musliminsendiri? ... khilafah yang jaya itu sampe diinjak-injak oleh orang Islamsendiri. ..." ?Menarik juga pendapat mas Tejo karena yang saya sering baca adalah versibahwa justru konspirasi yahudi dan pihak non-muslim eropah yang membuathancurnya khilafah di abad 20 itu. Jika memang yang mas maksud muslim ituadalah juga orang macam Mustafa Kamal, muslim keturunan yahudi yangmensekulerkan dan meng-kemalisasi Turki (=mengeropahkan dan sekaligusmen-dearab-kan) bukan muslim 'awam' yang adalah masyarakat Turki, saya bisamaklumi.Jadi saya membedakan antara muslim Turki yang tidak punya masalah dengankhilafah, dan muslim Turki semacam Mustafa Kamal yang punya sangat banyakmasalah dengan khilafah.Mohon 'pencerahannya' mas ...salam,satriyo--------------------------------------------------
"Bimo Ario Tejo"
Sebenarnya HT pernah menulis buku "Bagaimana Khilafah Dihancurkan",ditulis Abdul Qadim Zallum, amir ke-2 HT. Dalam buku itu dijelaskanbeberapa faktor mengapa khilafah sampai lenyap dari muka bumi.Sama seperti yang anda pahami, Zallum juga menuding konspirasi Yahudidan Kristen Eropa sebagai sebab hancurnya khilafah. To be specific,hasutan dari orang kafir-lah yang menyebabkan kaum musliminmemberontak terhadap khilafah.Kalau teori anda dan Zallum itu betul, berarti orang Islam itu bodoh.Sebegitu mudahnya dihasut sampai mau meruntuhkan negara sendiri. Sayatidak percaya orang Islam sebodoh itu sampai mau meruntuhkan negaranyasendiri. Pasti ada sebab lain, bukan cuma soal hasut-menghasut.Lagipun, kalau memang khilafah betul2 mensejahterakan umat (sepertiyang dipropagandakan HT), tidak mungkin orang Islam mau meruntuhkankhilafah. Ibaratnya, tidak mungkin istri menyeleweng kecuali kalosuaminya tidak perkasa di ranjang, iya nggak?Ketika satu jari menuding orang lain, keempat jari lain menuding dirisendiri. Filosofi inilah yang saya anut untuk meyakini bahwa hancurnyakhilafah lebih banyak disebabkan oleh kebobrokan internal ketimbangkarena pengaruh eksternal.OK, kembali ke pertanyaan anda: "Mas Tejo dapat referensi dari manabahwa khilafah (Turki/Utsmani) itu sampe diruntuhkan oleh kaummuslimin sendiri?"Jawaban saya:1. Pajak yang mencekik leher.Sebelum era Tanzimat, khilafah Utsmaniyyah menggantungkan pendapatannegara sepenuhnya dari pajak. Untuk menggenjot pendapatan, khilafahmenciptakan beberapa jenis pajak yang tidak pernah dikenal dalam fiqihIslam, misalnya pajak kepala (Resm-i çift untuk yang sudah menikah danResm-i mücerred untuk bujangan). Abu Su'ud Effendi, Sheyhul Islam padapertengahan abad ke-16, menafsirkan pajak kepala sebagai misaha yangdikenal oleh fiqih Islam. Argumentasi tersebut jelas hanya dicari-carikarena çift diadopsi dari pajak kepala di masa Bizantium yang dikenaldengan nama zeugaratikion [Metin Cosgel, Efficiency and Continuity inPublic Finance: The Ottoman System of Taxation, Department ofEconomics Working Paper Series, University of Connecticut (2004)].Tidak peduli muslim atau kafir, siapa sih yang tahan dibebani pajakini-itu?2. Kebobrokan ekonomi.Selama era Sultan Mahmud II (1808-1839) atau sebelum era Tanzimat,nama dan bentuk mata uang khilafah Utsmaniyyah telah berganti 35 kaliuntuk koin emas, 37 kali untuk koin perak, dan nilai tukar kuruşterhadap poundsterling telah merosot dari 23 pada tahun 1814 menjadi104 pada tahun 1839. Untuk menanggulangi hal ini, Reformasi Moneterdiluncurkan pada tahun 1844.Jika ekonomi sudah berantakan, rezim sangat mudah diruntuhkan. Ingatkrisis ekonomi yang berujung pada runtuhnya Orde Baru?3. Pemberontakan.Beberapa yang terkenal misalnya Revolusi Jelali di Anatolia(1519-1620) dan Revolusi Janissary (1622). Walaupun tidak secaralangsung meruntuhkan khilafah, kedua pemberontakan ini memberi pesankeras kepada khilafah Utsmaniyyah bahwa ada ketidakpuasan terhadapcara mereka mengadministrasi negara. Revolusi Jelali misalnya, dipicuoleh tingginya pajak dan kebobrokan moral aparat negara.Yang paling memukul dan menyebabkan hancurnya khilafah adalahserangkaian pemberontakan pada abad 19. Yang luar biasa, bukan cumawilayah dominan Kristen seperti Yunani yang memerdekakan diri, wilayahyang mayoritas Muslim pun ikut melepaskan diri dari khilafah.Bosnia-Herzegovina misalnya, mencoba memberontak dari khilafah padatahun 1831 dipimpin Husein Gradaščević. Alasannya: ketidakpuasan atasreformasi politik dan ekonomi oleh Sultan Mahmud II.Revolusi Arab tahun 1916 juga menunjukkan bahwa kaum muslimin sendirisudah muak dengan khilafah (herannya, kok orang jaman sekarang balikmenggandrungi khilafah). Dalam pidato proklamasi kemerdekaan Arab daripenjajahan "orang Turki", Syarif Hussein bin Ali menyebut merosotnyapamor khilafah menyebabkan rasa malu bagi bangsa Arab.Kalau memang khilafah "oke-oke saja" seperti dipropagandakan HT selamaini, apa mungkin gerakan pemberontakan bermunculan di mana-mana? Apamungkin khilafah terjebak krisis ekonomi? Something fishy, tentu adayang busuk dalam struktur khilafah.Anda menuding-nuding Mustafa Kemal sebagai sumber gara-gara. Tahukahanda bahwa Mustafa Kemal-lah yang menyelamatkan Turki setelah habisdiganyang tentara sekutu (Perancis, Rusia, Inggris) pada Perang DuniaI akibat kesemberonoan Khalifah Mehmed V Reshad mengomando "jihad"terhadap sekutu yang militernya jauh lebih maju?Istanbul, ibukota khilafah, ada di bawah kekuasaan Inggris pascakekalahan di PD I. Mustafa Kemal adalah orang yang memerdekakan Turkidari kekuasaan sekutu. Wajar jika Mustafa muak terhadap khilafah.Alih-alih mempertahankan wilayah Turki, eh malah memberi Istanbulsecara gratis ke Inggris melalui perjanjian Mudros (1918).salam,bimo-----------------------------------------
Sang Matahari
banyak faktor yang menyebabkan khilafah runtuh. dan semua diawali dari faktorinternal. Saya coba mensarikan sedikit.1) Kejumudan berpikir sehingga umat Islam tidak bisa merespon atau menghukumiperkara baru yang muncul karena disibukkan dengan jihad serta lalai dalammendalami agama Islam kembali. Disamping khilafah karena sedang dipuncakkeemasannya menjadi lalai dan lupa diri, sehingga kurang bisa merespon kemajuanbarat yang sedang melakukan renaisan. Tabiat manusia jika sudah sukses, kaya,lupa diri dan malas serta bawaannya berhura-hura.2) Tertutupnya pintu ijtihad sehingga umat Islam melakukan kodifikasi hukumdari barat. Diantarnya tahun 1985-1986, Turki memecah struktur hakim menjadihakim sipil dan agama (sekularisme), mengadopsi sistem parlementer secaraperlahan-lahan dengan diangkatnya perdana menteri. Serta pengangkatan khalifahhanya dilimpahkan pada satu orang syaikhul Islam dan bukan Ahlu halli wal Aqdi.INi salah satu penyimpangan, banyak yang lainnya.3) Selain itu, diabaikannya pelajaran bahasa arab padahal bahasa arab adalahibu dari syariat Islam dan mempelajari Al Quran,. Ijttihad tak bisa dilakukanoleh orang yang tidak paham bahasa arab.4) tafaqquh fiddinnya lemah (mendalami agama, syariat Islam lalai). Hal-halinilah yang kemudian menyebabkan penyimpagang-penyimpangan yang anda sebutkandibawah.5) Selanjutnya tak dipungkiri adanya konspirasi dari asing yakni dimulai padaabad 17-an dengan adanya misionaris di Malta di daerah Syam, mereka digerakkanPerancis dan Inggris yang membuat perpecahan warganegara Islam dan non muslim disana. Padahal non muslim dan muslim di Syam(lebanon) saling bertetangga baik.Walau sering menemukan kegagalan namun mereka lama-lama berhasil dan menanamkanide-ide pemberontakan serta kebencian terhadap khilafah.Upaya ini dilanjutkan dengan pemberian beasiswa bagi warganegara Islam keBarat. Di Barat mereka dibekali ide-ide demokrasi, sekularisme,politik barat,ketika mereka kembali mereka mengajarkannya pada warga khilafah. Mirip diIndonesia, para 'penggede' Islam liberal diberikan beasiswa ke luar negeri diAmerika serikat, Australia dll tentang teologi Islam. Ini ibarat "agenperubah"^_^ yang berusaha mematikan syariat Islam dan menjegalnya habis-habisan.6. Kemudian disusupkannya orang-orang pro Inggris, sekutu, perancis distruktur khilafah termasuk Attaturk dan yang lainnya, sehingga dikisahkan hampir50 persen pejabat khilafah adalah antek Inggris, sekutu dll, jiwa, dan hidupmereka sudah dibeli inggris dkk ^_^. Cobalah kita melihat saat ini, bukankah inisama dengan beberapa pejabat di negeri muslim? yang sami'na wa'athona terhadapmereka ^_^7. Sekutu dll membuat makar dengan berbagai pemberontakan, termasuk isunasionalisme dan kemerdekaan Arab, Turki, Syam, dll sehingga KHilafah disibukkandengan urusan internal dan melemah, dan melupakan perbaikan dirinya.Masing-masing daerah ingin memisahkan diri dari khilafah dan mendirikan negaraatas nama kebangsaan. Dahulu yang menjadi wilayah Usmaniyah kini terpecahmenjadi 57 negeri (negara seperti Arab Saudi, Qatar, Iran, Afghanistan,pakistan, India, Mesir, Libya, Iran, Palestina, Lebanon, Yaman, dll TermasukIndonesia) . Anda tentu paham, kalau terpecah belah mudah sekali dijajah baiksecara fisik atau pemikiran. Dieksploitasi SDM dan SDA-nya. Mirip sapu lidi yangtercerai berai saat ini bukan? Tak ada pelindung dll.8. Intelektual muda Turki (Turki Muda) sudah teracuni ide-ide demokrasi,sekularisme, pluralisme dll dan mereka menginginkan khilafah diruntuhkan dandiganti dengan Republik sekular, hasilnya Anda bisa melihatnya sekarang. Maka,sekarang dibalik, mendirikan khilafah adalah dengan mencerdaskan masyarakat,membentuk opini umum dan kesadaran umat tentang kewajiban penerapan syariatIslam dan khilafah untuk melangsungkan kehidupan Islam serta mengurusi urusanumat di segala aspek kehidupan. ^_^9. Maraknya aliran sufisme yang melenakan, dimana umat Islam lebih sukaberuzlah, menghindari aktivitas umat, membatasi urusan agama sekedar ibadahritual semata, berdzikir saja, menari. Dimana aliran ini merupakan penyimpangandari filsafat dan agama hindu.Bukankah dalam hidup ini, apa pun serangan dari luar itu tidak akan begituberpengaruh asal diri kita dan keyakinan kita kuat.Keruntuhan KHilafah bisa juga dibaca di BUKu Mengapa Umat Islam Mundur, bukuDr Ali Muhammad al-Shalabi Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Usmaniyah penerbit AlKhausar, ini ekternal HTI namun isinya hampir sama ^_^.
Langganan:
Postingan (Atom)